Wednesday, July 15, 2009

Kembalinya Daun Yang Berguguran…


Tentunya kita pernah melihat daun yang sudah menguning lantas gugur ke bumi. Iya lah! Sering banget kale… mungkin banyak di antara kita yang melewatkan momen itu dengan sangat biasa. Ah daunnya kan udah tua, wajar dong rontok. Gitu kali pikir kita.

Seberapa banyak yang kemudian berpikir apa sih hikmah dibalik peristiwa itu.
Mungkin yang mencoba memikirkannya hanya orang-orang yang sedang tidak punya pekerjaan. Duduk sendirian di bawah pepohonan, termenung, sembari diguguri dedaunan. Seperti yang kualami pagi ini…^_^

Begini, kalo kita lihat daun-daun yang berguguran ke bumi, sebenarnya dia tidak lenyap atau hilang. Dia memang akan lenyap beberapa hari kemudian. Kata the biologist sih tergantung daya degradasi si daun itu. Walaupun oleh kacamata biasa (bukan kacamata-ku loh?) dilihat lenyap atau hilang, sebenarnya daun itu hanya merubah bentuknya. Dari lembaran menjadi serpihan. Serpihan itu kemudian terurai kembali menjadi senyawa-senyawa yang bisa beradaptasi pada lingkungan barunya, yaitu tanah. Yap! Senyawa-senyawa itu tak lain adalah unsur hara tanah, yang kata the chemist unsur itu antara lain karbon dan nitrogen. Suer! Menurut ilmu pertanian, karbon ama nitrogen emang sangat diperlukan tanah dan tanaman di atasnya. Tanaman yang tumbuh di atas tanah itu mengambil unsur-unsur hara didalamnya untuk mempertahankan hidup (fungsi alamiah makhluk hidup).

Nah, artinya bergugurannya daun-daun dari pohonnya bukanlah proses menghilang atau lenyap, tapi itu adalah proses untuk kembali.

Seperti manusia, juga senantiasa berproses. Dan dalam melewati proses situ, serendah apa pun kedudukan kita, seburuk apa pun rupa kita, pasti Allah memberikan daya guna dalam diri kita. Yakin aja, fren!

Friday, July 10, 2009

Sebuah Bahan Renungan (bersama)…

Sahabiyah pernah menuntut hari khusus pengajaran kepada Rasulullah sehingga bisa bertanya tanpa berebut dengan laki-laki, dan dengan terbuka berkata, “ya Rasulullah, kaum laki-laki telah merebut sepenuhnya kehadiranmu, jadi berikan satu harimu untuk kami.” Nabi SAW berjanji memberi mereka satu hari dan dia berkhutbah dan memberikan mereka pengarahan.

Sebuah cerita yang terkenal melukiskan seorang perempuan yang berdebat dengan Umar ra di sebuah masjid tentang persoalan jumlah mahar yang dibayarkan kepada pengantin perempuan. Juga digambarkan bagaimana Umar (khalifah kedua), yang dapat diyakinkan oleh alasan perempuan tersebut, mengubah pendapatnya menjadi setuju dengan pendapat perempuan itu di depan umum. Komentar Umar tentang hal tersebut adalah, “Pengetahuan setiap orang adalah lebih baik dari pengetahuanku.”. Kisah ini dikutip bahkan oleh seorang ahli tafsir terkemuka seperti Ibnu Katsir, dimana Ibnu Katsir menyatakan bahwa kisah tentang Umar tersebut adalah benar. Juga selama masa kekhalifahannya, Umar menunjuka seorang perempuan, Asy Syifa Binti Abdullah sebagai pengawas pasar.

Tidak ada tirai besi antara laki-laki dan perempuan.
Kita lihat kisah Musa as yang dikisahkan pernah berbicara dengan dua orang puteri dari seorang laki-laki tua di Madyan (lihat QS. Al Qashash : 23-26). Beliau bertanya dan mendapatkan jawaban dari mereka tanpa ada perasaan bersalah atau merasa malu dan dengan bermurah hati membantu mereka. Salah satu di antara mereka bahkan menyarankan kepada bapaknya agar mempekerjakan Musa, seorang laki-laki yang kuat dan jujur.
Ini salah satu bentuk pengambilan kebijakan dari seorang perempuan dengan pertimbangan yang logis.

Kisah lainnya adalah tentang Ratu Balqis, yang disebutkan dalam Al Qur’an berunding dengan rakyatnya tentang bagaimana mereka seharusnya menjawab pesan Nabi Sulaiman kepadanya (lihat QS. An Naml : 32-34).

Sekali lagi, tidak ada tirai besi antara laki-laki dan perempuan. Semua memiliki hak peran yang sama. Batasannya adalah bagimana nilai-nilai kebenaran Ilahiyah itu bisa diakomodir (kisah Musa). Islam tidak pernah membatasi satu kaum atas kaum yang lain.

Wallahu’alam.

Semoga semua perbedaan dan karakter mendasar dari penciptaan diri kita masing-masing tidak membawa kita kepada keburukan (kesombongan), tapi sebaliknya bisa membawa kita pada kekuatan super menuju kejayaan Islam.

Dikutip dari buku Kedudukan Wanita dalam Islam karya Yusuf Qaradhawi

‘Cinta sih, tapi…’

Ka, haram kah jika aq mencintai seseorang. Kenapa Allah mempertemukan ka jika harus kecewa…

Deg. Sebuah sms dari seorang adik mengagetkanku. Lagi lagi tentang cinta...

Cinta itu adalah anugerah, maka cintailah yang memberi anugerah. Kata seorang teman kepadaku ketika kutunjukkan sms itu. Kita tentu tau siapa yang memberi anugerah cinta kepada manusia. Ya, Dialah Allah swt, tiada yang lain.

Lalu, bagaimana mencintai Allah?

Pertemuanku dengan seorang teman yang sakit, memberiku kesimpulan tentang mencintaiNya. Aku mendefinisikan bentuk cinta pada Allah adalah dengan memberi. Memberi dengan segala keikhlasan dan kesungguhan.

Jika Dia memanggil, maka berikan waktu terbaik. Bersegera bahkan mempersiapkan diri sebelumnya. Hal ini mungkin sudah sangat jelas bagi kita. Tapi, konsep memberi disini tidaklah bersifat habluminallah saja, tapi juga bersifat habluminannas, kepada manusia. Dengan memberi ke sesama manusia, artinya kita telah memelihara ciptaanNya, selanjutnya bisa dikatakan itu adalah bentuk cinta kepada Allah. Sederhana kan?

Faktanya, sulit untuk direalisasikan. Bahkan ketika ada teman yang minta tolong, perlu diinterogasi dulu. Perlunya apa? Kapan? Berfikir sejenak... hening... kemudian terucap : LIAT NANTI YA, KLO SEMPAT AKU BANTU.
Deg! Itu sama teman yang dikenal. Gimana dengan orang yang bahkan kita tidak kenal? Parah.

Konsepnya sangat sederhana, kenapa kita tidak berfikir sederhana saja. Bahwa permintaan tolong itu dari Allah melalui orang lain. Itu ladang amal bagi kita. Itu adalah bentuk cinta kita kepadaNya, teman...

Mungkin dalam bahasa manusia, jika ditanya cinta ga sama Dia? Jawabnya : Cinta sih, tapi...

Wallahu’alam

eN Be : buat adik-ku, nikmati aja... ^_^

Jangan Berlebih

“Jika mencintai sesuatu jangan berlebihan, nanti kalau ditinggalkan sakit rasanya…”
Kurang lebih seperti itu salah satu pesan terakhir Ibu-ku yang sempat terekam oleh Bapak. Sebuah pesan sarat makna, menurutku. Terlebih bagi Bapak karena beberapa jam setelah mengucap kalimat itu, Ibu pergi selamanya dan kami semua sangat kehilangan. Hingga, mata hatiku melihat duka itu masih terasa sampai sekarang. Ibu telah membawa kebahagian terbesar keluarga kami bersamanya.

Allah swt berfirman :
”...dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (Al An’am : 141)
Kupikir memang memandang segala sesuatu jangan pernah berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan akan lebih banyak membawa dampak buruk. Apalagi terkait perasaan. Dan berbicara perasaan, pastilah identik dengan wanita. Maka, menurutku para wanita seharusnya belajar mengelola pikirannya sebijak mungkin sehingga perasaan tidak mesti dimenangkan dalam pertarungan. Seperti yang dialami oleh Mbah-ku. Cinta yang beliau kelola dalam kerangka perasaan berlebih pada sesosok manusia berhasil membuahkan keluh kesah yang berkepanjangan. Hal ini terjadi ketika Allah swt memberikan sebuah ketentuan jalan hidup kepada beliau untuk dimadu suaminya. Maka, jadilah Mbah selalu merasa diperlakukan tidak adil. Begitulah ketika cahaya Islam belum menyinari hati manusia. Semua dipandang pada ego diri. Mbah yang memang sudah sepuh, tinggal bersama anak dan cucu –cucu beliau, sering mengungkapkan kesedihan dan keluhnya saat kukunjungi. Awalnya aku agak risih mendengarnya, karena semua berisi kesan jelek dan tuduhan untuk istri baru suaminya yang menurutku belum tentu benar. Tapi untuk selanjutnya aku pun bisa memaklumi dan menjadi pendengar bagi beliau. Mbah memang perlu seseorang yang bisa mendengarkan uneg-unegnya. Daripada dipendam dan menjadi malapetaka, maka kubiarkan telingaku menjadi wadah berbagi untuk Mbahku. Pun aku tidak bisa menyikapi perkataan beliau karena aku hanyalah anak kecil, yang bagi kalangan orang-orang jawa sulit diterima pendapatnya. Yang jelas, aku dapat memetik hikmah dari pengalaman hidup orang-orang yang lebih tua dariku.

Kisah lain, tentang seorang teman. Beda dengan Mbah-ku, temanku ini jarang bahkan tak pernah kudengar ia mengeluh. Tapi, sering ia menyikapi sesuatu dengan berlebihan. Terlalu dibesar-besarkan. Aku sih mengerti bahwa apa yang dilakukannya adalah cara mendidik adiknya, tapi tetap saja tidak wajar. Sangat disiplin, idealis, tidak ada fleksibilitas sedikitpun. Padahal aku pikir dengan usia adiknya yang sudah cukup dewasa, tak perlu lah untuk diperlakukan seperti itu. Bagaimana cara membereskan tempat tidur dan menyimpan barang-barang, kapan harus mencuci, memasak, apa yang harus disuguhkan. Semuanya dipersoalkan. Kenapa begini kenapa begitu. Satu kesalahan (mungkin lebih tepat kelemahan) yang kulihat dari temanku adalah ketidakterbukaan. Dia sangat tertutup. Menuntut orang lain untuk memahaminya.

Sebenarnya, bisa disimpulkan bahwa sikap berlebihan itu terjadi karena ketidakseimbangan perasaan dan pola pikir. Pada kasus Mbah-ku, perasaan sedihnya terlalu besar. Sedangkan pada temanku, pola pikir idealisnya yang terlalu besar. Padahal semua bermuara pada cinta.

Aku sendiri lebih memilih seperti apa yang disampaikan Ibu,
“Jika mencintai sesuatu jangan berlebihan, nanti kalau ditinggalkan sakit rasanya…”

Ah, Ibu kenapa aku semakin mencintaimu ketika engkau sudah pergi. Jauh...

Thursday, July 2, 2009

Saat Isi Kepala-ku Bergolak

Lama ga menulis membuat pikiran suntuk jadinya. Dari pada mulutku yang bakal ngaco ngomong ga jelas, maka kucoba untuk menuang hasil refleksi-ku terhadap satu buku yang tiga hari ini menemaniku; "Karena Engkau Perempuan". Sebuah karya dari FLP Yogyakarta.

Ini bagian yang paling aku kritisi,
'Laki-laki dan Perempuan itu Berbeda' oleh Muhammad Idham

saya ingat apa yang disampaikan John Gray. Perempuan membutuhkan perhatian, dan laki-laki membutuhkan kepercayaan. Perempuan membutuhkan pengertian, laki-laki membutuhkan penerimaan. Perempuan membutuhkan rasa hormat, laki-laki membutuhkan penghargaan. Perempuan membutuhkan kesetiaan, laki-laki membutuhkan kekaguman. Perempuan membutuhkan penegasan, laki-laki membutuhkan persetujuan. Perempuan perlu jaminan dan laki-laki perlu dorongan.
Saya tidak yakin apakah pendapat John Gray benar semuanya. Tapi, harus saya akui bahwa-paling tidak- ada sebuah kesimpulan yang bisa saya ambil, kita berbeda. Itulah yang membuat laki-laki sering tidak paham dengan perempuan karena kita memahami perempuan dengan pemahaman jenis mereka.


Pertanyaan yang muncul dibenak-ku adalah :lo kok gitu?
Kayaknya untuk memahami satu sama lain kok susah banget ya. Klo ada pengkategorian seperti kata John Gray, malah sangat tidak ada nyambungnya. So, gimana cara memadunya ya? Katanya saling melengkapi, tapi untuk menyambungkannya saja susah lantas gimana dong?

Terlihat sekali dari pernyataan di atas tadi bahwa laki-laki itu EGOIS. Lihat kata-kata berikut : kepercayaan, penerimaan, penghargaan, kekaguman, persetujuan, dan dorongan. Walah! Super egois nih ceritanya. Lebih dominan rasa prestise-nya. Masa sih laki-laki ga punya rasa empati? Ga ah! Toh Bapak-ku super legowo sama aku dan kakak-ku. Kakak-ku sendiri punya rasa iba yang sangat, kasih sayang yang besar.

So, benarkah harus seperti itu? Ah, mungkin jika waktunya tiba, jawab itu akan datang dengan sendirinya...

Tuesday, April 28, 2009

Duo Cinta (awas bajakan!!!)


Ini kutipan (red : bajakan) tulisannya Mba Asma Nadia dalam ‘La Tahzan for Broken Hearted Muslimah’ (asli, bener-bener kutipan, ). Very recommended!

Satu : Cinta sebelum waktunya …
Ah, cinta menjadi penuh air mata ketika kamu menyadari baik dirimu dan dirinya tidak mungkin memelihara cinta ini. Pertama karena usia. Kamu masih anak sekolah ... (lagu lama ). Masih terlalu kecil, masih seabrek proses pendewasaan yang harus kamu lalui. Masih ngurusin PR atau ulangan yang nilai-nilainya belakangan do mi sol do. Kedua, penyebabnya salah satu atau kedua-duanya (kamu dan dia) belum siap menikah. Sementara sebagai muslimah yang baik, kamu tidak ingin terlibat pacaran atau hubungan tanpa status lainnya. Patah hati? La Tahzan! Jangan sedih sayang. Cinta bagi muslimah memang membutuhkan the right one and the right time… Allah Maha Baik, percaya itu! Mungkin kisah cinta yang sekarang bukan dimaksudkanNya untuk menjadi milik kamu. Coba nikmati dan syukuri karena cinta sebenarnya perasaan yang indah. Coba cari pembelajaran apa yang bisa kamu dapatkan kali ini. Satu lagi, jangan kehilangan kepercayaan terhadap satu hal: kalau jodoh nggak lari kemanaaa…

Dua : Cinta yang tak pantas
Kamu jatuh cinta, tetapi si dia sudah menjadi milik orang. Buruknya lagi, dia pun sebenarnya mencintaimu, setidaknya itu yang dikatakannya. Dan kasus ini terjadi pada muslimah? Ya. Sebenarnya tidak hanya satu, melainkan cukup banyak (dikisahkan dalam buku). Nggak perlu merasa buruk karena memang cinta tidak bisa direncanakan.
Lalu apa yang harus dilakukan ?
 Benarkah lelaki ini mencintaimu? Jika dia bisa mengkhianati oarang yang dicintai, dan diam-diam menjalin hubungan denganmu? Laki-laki seperti ini harus diberi label khusus : “JANGAN DEKAT-DEKAT!”
Kenapa? Karena mereka punya potensi untuk tidak mensyukuri cinta yang sebelumnya telah Allah berikan kepada mereka. Tindakan yang dilakukan menunjukkan mereka tidak menjaga dengan sungguh-sungguh perasaan dan kesetiaan kepada perempuan yang dicintai.
 Jika lelaki itu sudah menikah, hm... bukankah Islam membuka ruang untuk menjadi yang kedua? Ya, ruang itu ada. Poligami memang ada dalam Islam. Tetapi sebaiknya kamu pertimbangkan dalam-dalam. Tanyakan pada dirimu:
1. Apakah kamu benar-benar yakin tidak ada laki-laki lain di luar sana yang lebih baik dan bisa menjadikanmu yang pertama?
2. Apakah keluargamu siap dengan ini?
3. Apakah dia benar berniat menikahimu, bukan bermain-main? Jika dia menikahimu, benarkah secara resmi atau memilih pernikahan siri (diam-diam). Ini menunjukkan seberapa tinggi niatnya untuk mengakui pada dunia bahwa dia mencintaimu.
4. Apakah kamu siap dengan ini? Ada cukup banyak kasus istri-istri kedua yang frustasi dan tidak bisa melepaskan kecemburuan mereka terhadap istri pertama.
5. Apakah anakmu nanti siap dengan semua ini? Seorang perempuan bukan hanya akan merupakan calon istri seseorang, tetapi juga calon ibu. Adalah kewajiban setiap perempuan untuk memilihkan bapak yang terbaik bagi anak-anaknya. Bukan hanya karena lelaki itu yang paling dicintai, tetapi karena kelayakan-kelayakan yang dia miliki, kualitasnya untuk menjadi ayah bagi anak-anakmu. Yakin si dia merupakan orang yang tepat?
6. Coba pejamkan matamu dan bayangkan kamu berada di posisi perempuan pertama. Bisakah hatimu bahagia sementara di satu sisi kamu tahu ada seorang perempuan, mungkin dengan anak-anaknya, yang menjadi hancur hatinya karena merasa suami/ayah mereka dirampas? Permasalahnnya bukan hanya perasaan tapi bahwa kesedihan itu bisa memiliki efek panjang yang ujung-ujungnya benar-benar menghancurkan masa depan seseorang. Bisakah kamu menutup mata dengan menanggung perasaan seperti ini, setiap malam?
 Jika cinta ini membuatmu sedih, barangkali mengakhirinya meski harus melalui kesedihan yang mendalam, bisa melepaskanmu dari beban pikiran dan hati yang selama ini mengungkungmu. Ikhlaskan!
 Jika kamu setuju, buang semua kenangan. Gandeng teman-teman muslimah yang lain dan lakukan hal-hal seru yang bisa mengalihkan pikiranmu. Percayalah apalagi jika diniatkan keihklasan itu untuk menjaga istri dan anak-anak dari lelaki itu, maka ini adalah amal saleh untukmu. Wallahu’alam, sebuah ujian lain dari Allah yang mudah-mudahan bisa kamu akhiri sesuai dengan yang Allah inginkan. Dengan menambah pahala, bukan dosa.

Yap! Sukses banget nih membajaknya... Hanya pengen berbagi kok. Sorri ya Mba Asma, udah ga kenal berani membajak tulisan lagi! (he... bakat kali).

Last, moga manfaat deh! Dan ... tunggu edisi bajakan selanjutnya!!!

Lingkaran yang (kembali) Berulang

Siang itu, 3 Januari 2008, terik sekali. Beda dari hari biasanya yang sering mendung dan hujan. Jam 2 siang, aku dan seorang saudara selingkaran-ku tiba di rumah Murabbi. Hari itu memang agenda rutin kami. Tapi, hari itu adalah hari terakhir kami bersama. Lingkaran kami mengalami penataan. Aku sering menganalogikan peristiwa ini seperti proses penataan ulang elektron sebagai reaksi menuju kestabilan. Yah, itulah sunatullah yang telah digariskan. Kebetulan rumah Murabbiku sedang direparasi, jadilah kami melingkar dibelakang rumah beliau, beralaskan tikar lampit dan beratap langit, yang … terik. Hanya beberapa bagian yang lumayan teduh. Bahkan ketika Murabbiku menyampaikan petuahnya, separoh badannya terjamah teriknya sang cahaya. Satu sisi, panasnya hari itu harus disyukuri mengingat minggu-minggu terakhir kota kami tak pernah tersentuh panas. Bahkan daerah tepian laut dan pinggir kota mengalami banjir.

Ku tatap satu-satu teman seperjuanganku itu, mereka ada 4 orang. Kembali mengingat lingkaran-lingkaran sebelumnya membuatku tak begitu sedih. Sudah yang ketiga kali ini. Tapi, tiap lingkaran mempunyai sketsa berbeda. Yang jelas, setiap masa yang kulalui membuahkan makna yang indah saat kulihat dengan pikiran positif (belajar dari seorang teman). Seperti perpisahan itu, aku yakinkan diri bahwa ada takdir yang lebih indah di depan yang telah dipersiapkanNya untukku, spesial untukku… Terakhir, kami pun tuker kado. Sebuah hadiah toples dengan bentuk menarik sampai ditanganku, hanya untuk ku. Jazakumullah Sist…

Begitulah sebuah perpisahan pasti terjadi pada sebuah pertemuan. Tapi itu bukan akhir dunia. Seperti sebuah siklus air, semua seperti berulang. Maka, kembali aku mengalami sebuah pertemuan. Beda. Memang berbeda. Tapi aku harus melihat sisi baiknya. Teman-teman selingkaranku kini adalah orang-orang yang lebih berpengalaman dalam hidup ini, maka pastinya aku akan mendapatkan hal-hal baru yang belum pernah kualami sebelumnya. Pasti!

Ya Rabb… Engkau tahu bahwa hati ini telah berhimpun dalam kecintaan kepadaMu, telah berjumpa dalam mentaatiMu, telah bersatu dalam dakwah kepadaMu, telah terjalin dalam membela syariatMu. Maka teguhkanlah, ya Allah, ikatannya… kekalkanlah kasih sayangnya… tunjukilah jalan-jalannya… penuhilah hati itu dengan cahayaMu yang tidak pernah sirna… lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman kepadaMu dan indahnya kepasrahan kepadaMu… hidupkanlah ia dengan bermakrifah kepadaMu… dan matikanlah ia di atas kesyahidan di jalanMu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong…


Mengenang aku dan mereka
(Mb U, Mb Ti, If, Rt, Tw)
Love U Fillah