
Ini kutipan (red : bajakan) tulisannya Mba Asma Nadia dalam ‘La Tahzan for Broken Hearted Muslimah’ (asli, bener-bener kutipan, ). Very recommended!
Satu : Cinta sebelum waktunya …Ah, cinta menjadi penuh air mata ketika kamu menyadari baik dirimu dan dirinya tidak mungkin memelihara cinta ini. Pertama karena usia. Kamu masih anak sekolah ... (lagu lama ). Masih terlalu kecil, masih seabrek proses pendewasaan yang harus kamu lalui. Masih ngurusin PR atau ulangan yang nilai-nilainya belakangan do mi sol do. Kedua, penyebabnya salah satu atau kedua-duanya (kamu dan dia) belum siap menikah. Sementara sebagai muslimah yang baik, kamu tidak ingin terlibat pacaran atau hubungan tanpa status lainnya. Patah hati? La Tahzan! Jangan sedih sayang. Cinta bagi muslimah memang membutuhkan the right one and the right time… Allah Maha Baik, percaya itu! Mungkin kisah cinta yang sekarang bukan dimaksudkanNya untuk menjadi milik kamu. Coba nikmati dan syukuri karena cinta sebenarnya perasaan yang indah. Coba cari pembelajaran apa yang bisa kamu dapatkan kali ini. Satu lagi, jangan kehilangan kepercayaan terhadap satu hal: kalau jodoh nggak lari kemanaaa…
Dua : Cinta yang tak pantasKamu jatuh cinta, tetapi si dia sudah menjadi milik orang. Buruknya lagi, dia pun sebenarnya mencintaimu, setidaknya itu yang dikatakannya. Dan kasus ini terjadi pada muslimah? Ya. Sebenarnya tidak hanya satu, melainkan cukup banyak (dikisahkan dalam buku). Nggak perlu merasa buruk karena memang cinta tidak bisa direncanakan.
Lalu apa yang harus dilakukan ?
Benarkah lelaki ini mencintaimu? Jika dia bisa mengkhianati oarang yang dicintai, dan diam-diam menjalin hubungan denganmu? Laki-laki seperti ini harus diberi label khusus : “JANGAN DEKAT-DEKAT!”
Kenapa? Karena mereka punya potensi untuk tidak mensyukuri cinta yang sebelumnya telah Allah berikan kepada mereka. Tindakan yang dilakukan menunjukkan mereka tidak menjaga dengan sungguh-sungguh perasaan dan kesetiaan kepada perempuan yang dicintai.
Jika lelaki itu sudah menikah, hm... bukankah Islam membuka ruang untuk menjadi yang kedua? Ya, ruang itu ada. Poligami memang ada dalam Islam. Tetapi sebaiknya kamu pertimbangkan dalam-dalam. Tanyakan pada dirimu:
1. Apakah kamu benar-benar yakin tidak ada laki-laki lain di luar sana yang lebih baik dan bisa menjadikanmu yang pertama?
2. Apakah keluargamu siap dengan ini?
3. Apakah dia benar berniat menikahimu, bukan bermain-main? Jika dia menikahimu, benarkah secara resmi atau memilih pernikahan siri (diam-diam). Ini menunjukkan seberapa tinggi niatnya untuk mengakui pada dunia bahwa dia mencintaimu.
4. Apakah kamu siap dengan ini? Ada cukup banyak kasus istri-istri kedua yang frustasi dan tidak bisa melepaskan kecemburuan mereka terhadap istri pertama.
5. Apakah anakmu nanti siap dengan semua ini? Seorang perempuan bukan hanya akan merupakan calon istri seseorang, tetapi juga calon ibu. Adalah kewajiban setiap perempuan untuk memilihkan bapak yang terbaik bagi anak-anaknya. Bukan hanya karena lelaki itu yang paling dicintai, tetapi karena kelayakan-kelayakan yang dia miliki, kualitasnya untuk menjadi ayah bagi anak-anakmu. Yakin si dia merupakan orang yang tepat?
6. Coba pejamkan matamu dan bayangkan kamu berada di posisi perempuan pertama. Bisakah hatimu bahagia sementara di satu sisi kamu tahu ada seorang perempuan, mungkin dengan anak-anaknya, yang menjadi hancur hatinya karena merasa suami/ayah mereka dirampas? Permasalahnnya bukan hanya perasaan tapi bahwa kesedihan itu bisa memiliki efek panjang yang ujung-ujungnya benar-benar menghancurkan masa depan seseorang. Bisakah kamu menutup mata dengan menanggung perasaan seperti ini, setiap malam?
Jika cinta ini membuatmu sedih, barangkali mengakhirinya meski harus melalui kesedihan yang mendalam, bisa melepaskanmu dari beban pikiran dan hati yang selama ini mengungkungmu. Ikhlaskan!
Jika kamu setuju, buang semua kenangan. Gandeng teman-teman muslimah yang lain dan lakukan hal-hal seru yang bisa mengalihkan pikiranmu. Percayalah apalagi jika diniatkan keihklasan itu untuk menjaga istri dan anak-anak dari lelaki itu, maka ini adalah amal saleh untukmu. Wallahu’alam, sebuah ujian lain dari Allah yang mudah-mudahan bisa kamu akhiri sesuai dengan yang Allah inginkan. Dengan menambah pahala, bukan dosa.
Yap! Sukses banget nih membajaknya... Hanya pengen berbagi kok. Sorri ya Mba Asma, udah ga kenal berani membajak tulisan lagi! (he... bakat kali).
Last, moga manfaat deh! Dan ... tunggu edisi bajakan selanjutnya!!!