Engkau datang di saat tidak tepat. Saat hatiku berkabut pekat. Saat percayaku terkikis tuntas. Aku pun mengira aku bisa menggantung harap padamu. Namun aku salah ternyata. Engkaupun hadir tanpa ketulusan. Menambah baris-baris luka. Mengapa mesti kau bawa dia di antara kita?
hingga kini.. dan aku sampai lupa caranya bahagia.
hidrogenalfa
'be more positive'
Sunday, February 26, 2012
Monday, February 13, 2012
Lagu sunyi
biarlah angin menjadi kawan,,
ia menyapaku dalam diam
biarlah air menjadi teman,
ia membelaiku dalam hening
aku yang damai di kesunyian
memuja mereka dengan kesetiaan
akulah sang ilalang
ia menyapaku dalam diam
biarlah air menjadi teman,
ia membelaiku dalam hening
aku yang damai di kesunyian
memuja mereka dengan kesetiaan
akulah sang ilalang
Wednesday, February 8, 2012
Elegi Cinta di Suatu Pagi

Pagi yang basah kali ini mempertemukanku dengan sebuah catatan pesan di kompi. Kubaca-baca. Ternyata surat-surat untuk adik-adikku di sebuah lingkaran dulu. Surat perpisahan untuk adik-adik yang telah banyak mengajarkanku tentang kehidupan. Oh,, tiba-tiba rindu itu meraja.
Apa kabar kalian? Ah ternyata aku tak mampu menjaga tali kita. Sebuah ikatan ukhuwah yang dipertemukan oleh Allah. Astagfirullah.
Semoga catatan kecil ini mampu mempertautkan kembali hati-hati kita. Melalui angin, kuharap ia menyapa kalian dengan lembutnya. Melalui langit, kuharap ia menyapa kalian dengan birunya. Melalui hujan, ku harap ia menyapa kalian dengan rintiknya.
Ingatkah kalian dengan kakak ini? Yang tak sempurna membersamai kalian?
Lingkaran kita. Pertemuan pekanan yang penuh warna. Kadang merah menyala, kadang putih, hijau, bahkan kelabu. Tapi aku yakin tak ada hitam di sana. Karena kalian adalah pelangi. Begitu nyaman melihat senyum kalian terkembang, saat prestasi demi prestasi saling membanggakan. Beda sama kakak, yang harus merangkak melewati angka satu koma di semester tiga. Hehe. Kalian adalah bintang.
Mengingat kesibukan kalian dulu, kakak jadi tersenyum-senyum sendiri. Kalian adalah oase. Selalu memberi kesegaran di kampus kita. Berbagai aktivitas seperti menjadi kebutuhan. Himpunan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan terutama ruang tempat kita dipertemukan, sebuah majelis mulia, Forum Studi Islam Ulul Albab. Kalian sibukkan diri dengan tetap menjadi sang bintang. Kalian bagaikan seorang pengelana yang haus untuk mengembara, mencari hal-hal baru.
Apa kabar kalian? Kakak percaya dengan ikatan hati. Jika saat ini pagi telah mengembalikan ingatanku akan kalian, pastilah kalian juga. Namun, pasti ada sketsa yang berbeda.
Apa kabar kalian? Semoga dimanapun kalian saat ini, kebaikan demi kebaikan yang membersamai. Sangat berharap diberikan waktu dan kesempatan untuk bertemu lagi dengan kalian. Berharap dengan sangat.
Ah, adik-adikku yang manis apa kabar kalian?
07.02.2012
@ room
Monday, February 6, 2012
Nyanyian Angin - Lukisan Ilalang

Sketsa 1 : Lukisan
“Mau beli apa kak?”
Tangan mungilnya masih sibuk mengikat bundelan kacang yang dipangkunya. Gadis kecil itu kutaksir tak lebih berumur 8 tahun. Mungkin Ia baru kelas 2 SD sekarang. Rambutnya panjang diikat kuda. Sedikit ikal di bagian ujungnya. Kulitnya hitam manis. Ia kenakan kaos berwarna kuning kusam berpadu dengan rok payet kelabu. Aku yakin bukan kehendaknya harus mengenakan pakaian itu. Hanya saja, tak banyak pilihan dari lemari kayu kecil berdebu di pojok kamarnya. Terlebih saat ini musim penghujan berkepanjangan. Meski begitu jelas kemiskinan dalam performance-nya, sebuah hiasan manis tak pernah pudar dari wajahnya. Senyuman.
Kucomot asal seikat kangkung dihadapanku. Entah daya tarik apa dari si sayur ini, tiap kali menghampiri penjual sayur, mata dan pikirku selalu berkolaborasi berimajinasi tentang seikat kangkung yang harus kubawa pulang. Kangkung lah yang pertama kusebut jika ditanya soal sayuran. Mungkin kah aku sudah terlalu maniak dengan tanaman yang konon bisa membuat kantuk itu. Hmm…
“Ini berapa de?” Gadis kecil itu meletakkan kacangnya. Ia ambil kangkung itu dan menimang-nimangnya. ”Hmm...” Ia berfikir. Ku tunggu lama. Matanya mencari-cari.
”Kangkungnya tiga ribu Nak” Dari sebelah kiriku muncul seorang Bapak yang sedang mengangkut karung. Tingginya mungkin mencapai 170 sentimeter. Kepalaku harus mendongak untuk melihat wajahnya. Ia bergegas duduk di samping si gadis kecil dan meletakkan karungnya di belakang. Beberapa bongkah jagung yang belum dikupas menyembul dari karung itu.
Bapak ini pasti ayah si gadis kecil. Tak perlu kutanyakan. Aku sangat yakin. Sangat jelas kulihat keduanya saling menyerupai. Terlebih senyuman itu.
”Beli dua ikat lima ribu...” suara si Bapak mengembalikan kesadaranku. Tanpa berkata kuambil satu ikat kangkung. Ah, cuma aku sendiri saja pastilah cukup. Gadis kecil membungkusnya dengan plastik hitam. Kusambut bungkusan itu dengan menyerahkan tiga lembar seribuan ke tangannya.
Aku berjalan menjauh dari lapak tak beratap itu. Meninggalkan dua manusia yang begitu terikat satu sama lain. Sebuah ikatan yang aku yakin membuat alam ini iri setengah mati. Ikatan cinta.
Sayup kudengar suara adzan magrib dari surau depan pasar. Tak membuang waktu, aku bergegas pulang. Kupacu motorbebek-ku dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan tak lepas alam pikirku mengenang lukisan wajah di pasar tadi. Ayah dan anak gadisnya yang sedang tersenyum. Indah sekali.
CERMIN DIRI

Dalam ajaran kerohanian Islam, hati diibaratkan cermin. Sebagai cermin, hati adalah alat untuk mengenali diri sendiri. Seperti halnya cermin, hati ada dua macam: ada yang bersih dan terang serta ada pula yang kotor dan gelap. Menurut Imam Ghazali, kualitas hati, bersih atau kotor, terang atau gelap, sangat bergantung dan ditentukan oleh perilaku manusia itu sendiri.
Dikatakan, jika ia cinta agama dan suka berbuat kebajikan, maka hatinya bersih dan terang. Semakin ia suka berbuat kebaikan, hatinya semakin terang dan bertambah terang, bahkan berkilau-kilau (yatala'la'). Dalam keadaan demikian, hati dapat menangkap dengan baik sinyal-sinyal ketuhanan (Tajalliyyat al-Ilahiyyah) dan dapat mencapai ma'rifah dengan sempurna.
Sebaliknya, bila ia suka berbuat dosa dan keburukan, maka hatinya buram dan gelap. Dosa-dosa itu ibarat kepulan asap yang menghitam dan menutupi hati. Setiap kali orang berbuat dosa, maka timbul noktah hitam di hatinya. Semakin sering ia berbuat dosa, maka semakin banyak pula noktah hitam sampai akhirnya menutupi seluruh hatinya. Dalam keadaan demikian hati menjadi hitam pekat dan gelap.
Inilah kegelapan hati lantaran dosa-dosa yang dalam Alquran dinamakan rin. Firman Allah SWT, ''Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.'' (Al-Muthaffifin: 14). Apa yang dimaksud dengan rin dalam ayat di atas tak lain adalah dosa-dosa. Jadi, rin adalah dosa-dosa yang dilakukan secara terus-menerus sehingga membuat hati menjadi gelap dan mati.
Menurut pakar tafsir al-Razi, penutup hati ada tiga tingkatan. Pertama, rin, yaitu dosa-dosa seperti disebutkan di atas. Kedua, thab-'i, yaitu watak yang terjadi karena rin. Jelasnya, kalau dosa-dosa terus dilakukan, maka hal itu menjadi kebiasaan dan akan berkembang menjadi watak. Dan inilah yang dinamakan thab-'i. Ketiga, iqfal, yaitu hati menjadi terkunci mati. Ini berarti, thab-'i lebih berat dari rin, dan iqfal lebih berat lagi dari thab-'i. Pada tingkat yang terakhir ini, hati tidak saja gelap, tetapi benar-benar tertutup rapat. Dalam keadaan demikian, hati tidak dapat menerima kebenaran dan petunjuk Allah. Bahkan, ia benci dan alergi dengan agama dan nasihat. Inilah makna firman Allah, ''Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.'' (Al-Baqarah: 6).
Sebagai cermin diri, hati perlu dibersihkan dari dosa-dosa dengan tobat. Tobat membuat hati menjadi bersih dan terang kembali, meskipun tidak seterang hati orang yang selalu menjaga diri dari dosa-dosa dan maksiat. Selanjutnya, hati perlu banyak berdzikir dan mengingat Allah. Bagi kaum sufi, dzikir adalah pintu ma'rifah, sedangkan ma'rifah adalah pintu kebahagiaan. Semoga kita masih punya waktu untuk becermin dan membersihkan cermin kita, sehingga kita bisa mengenali dengan baik kerut-kerut dan borok-borok yang ada di ''wajah'' kita. Wallahu a'lam.
Wednesday, January 18, 2012
Aku dan Kebodohanku

“Apakah aku ini pendendam?”
Sebuah tanya yang pernah aku lemparkan ke beberapa orang (ah, seingatku hanya 2 orang sih). Satu-satunya yang menjawab tanya itu adalah seorang kawan yang sering kubilang ‘aneh’ bin ‘nyeleneh’ bin ‘sableng’. Oh! Mukjizat bagiku dia mau menjawab pertanyaanku itu. Tau apa jawabnya?
“Iya, kamu itu pendendam”
Datar. Ah, kenapa aku mendengarnya seperti memperolokku?. Dan sepersekian detik selanjutnya aku menyadari kebodohanku sendiri yang mempercayakan pertanyaan itu untuk dia jawab. Shit!
Dan kita lupakan saja adegan sangat tidak penting bersama kawan ku itu.
Entah sejak kapan pertanyaan itu mampir dibenakku. Yang pasti, aku harus meyakinkan karakter itu ada atau tidak dalam diriku. Entah karena ingin tau saja atau karena usiaku yang semakin renta yang memojokkan setiap nurani ku untuk bisa membedakan yang benar dan yang salah.
Aku sudah melewati hidup puluhan tahun dan aku masih tak mengerti bagaimana karakter ku sesungguhnya. Ah! Something stupid bukan?
Ada kesalahan yang sulit kumaafkan. Ada rasa sakit hati yang tak terbantahkan, mengendap di dasar hati. Manusiawi bukan? Kalian juga pasti mengalaminya.
Tapi ada iba yang menguliti sikap itu. Ada nurani yang selalu berbisik bahwa semua orang pernah salah. Terlebih, tak sepenuhnya kesalahan itu karena mereka. Ada andil – besar ataupun kecil – dari diriku sendiri. Misal, ada buku yang kamu pegang, trus ada yang tiba-tiba mau meminjamnya, kamu ragu untuk memberikannya, tapi si peminjam sudah keburu menarik buku itu dan kamu pun masih memegang erat, sehingga buku itupun robek. Si peminjam tentu salah karena tidak meminjam secara baik-baik, tapi kamu juga salah karena begitu enggan melepas buku itu. Kira-kira begitulah analoginya (aneh memang, tapi terima sajalah).
Lantas, apa aku benar-benar tak bisa memaafkan? Ini tak bisa kujawab tegas. Semua akan menyeretku ke ruang abu-abu. Dibilang memaafkan, tapi aku masih tidak bisa menerima kehadiran mereka kembali. Dibilang tidak memaafkan, toh aku bisa melanjutkan hidupku tanpa berlama-lama mengingat kembali luka itu.
Pendendam kah aku? Pertanyaan itu selalu menghantuiku.
Aku begitu ingat saat mempelajari sifat-sifat yang tidak terpuji pelajaran agama Islam di sekolah dasar dulu. Ya, dendam adalah salah satu sifat-sifat itu. Aku sadar. Sesadar-sadarnya. Tapi, bagaimana caranya aku menangkal rasa sakit hati? Sebuah luka yang digoreskan oleh waktu. Luka yang membuatku malu. Ingin ku ratapi diri sendiri saja, namun tak adil rasanya. Ada orang lain yang menyebabkan aku begini. Begitu terus sisi jahatku berbisik.
Akhir dari pencarianku menyimpulkan, bahwa yang sudah terjadi maka itulah takdir. Aku hanya bisa memohon ampun atas masa lalu. Apakah masa depan bisa menerima kesalahan ku, biar kuserahkan pada sang waktu.
18.01.2012 @11.18pm
Monday, January 16, 2012
Seuntai Sepi
menanamnya dalam
hingga mengakar
telah membuatku berduka
hingga berdarah
berkali-kali
tak bisa kutanam lagi
aku lelah
aku hanya manusia biasa
hingga mengakar
telah membuatku berduka
hingga berdarah
berkali-kali
tak bisa kutanam lagi
aku lelah
aku hanya manusia biasa
Subscribe to:
Posts (Atom)