_sebuah refleksi ¼ abad hidup_
Bermula dengan ucapan terima kasih yang sangat untuk mas, mbak, teman, dan ade yang telah mewarnai kanvas catatan “__LORONG__”-ku. Atas semua masukan. Atas semua perhatian. Atas semua warna. Karena hidup itu indah dan karena ia begitu berarti.
Hidup itu sekali, harus berarti!. Motto hidup seorang teman kini juga menjadi bagian dari nilai yang selalu aku ingat. Benar sekali! Kita diberi kesempatan oleh Allah swt untuk ada di dunia ini hanya sekali saja. Setelah itu kita akan menjalani hidup di alam yang abadi dengan perimbangan apa yang telah kita peroleh dari dunia ini. Kalau kita dapat banyak pahala, bahagialah karena surga rumah kita. Tapi, kalau dosa yang kita peroleh, maka neraka-lah tujuan kita. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung.
Memuliakan orang lain. Sebuah nilai positif dari seorang teman lain lagi. Manusia itu makhluk yang mulia, maka dengan memuliakan orang lain, itu lebih mulia. Hal ini mengajarkanku untuk menjadi teman yang baik, tidak menuntut orang lain tetapi memberi yang terbaik untuk orang lain. Sungguh tidak mudah, karena lawan kita ada di dalam diri. Ialah ego. Tapi, dengan berlatih untuk mencobanya terus menerus, aku yakin setiap manusia bisa berbuat demikian. Pun ada waktunya kita memang harus dimuliakan. Tentulah tidak harus menjadi yang dominan.
Memanusiakan manusia. Ini menjadi nilai yang kutanamkan sendiri ke pikiranku. Seorang lelaki yang telah kuanggap bapak sendiri, pernah mengatakan,
’berilah penghargaan pada orang yang telah berjasa padamu, walaupun itu sangat kecil nilainya’.
Kira-kira seperti itu konteksnya. Kenapa harus seperti itu? Tidak ada alasan yang penting sebenarnya, alasannya hanyalah karena mereka manusia. Seperti diri kita sendiri, yang selalu ingin dihargai. Seperti itulah manusia. Maka penghargaan adalah sisi manusiawi manusia. Yang aku jumpai, sering kita tidak puas dengan pekerjaan orang lain untuk kita. Misal, penjahit pakaian yang tidak sempurna menyelesaikan pesanan kita, lantas kita marah dan membentaknya. ’udah dibayar kok’. Begitu alasan kita. Tapi, apakah tidak lebih baik kita ucapkan terima kasih terlebih dahulu atas kerja kerasnya. Baru menyampaikan ketidakpuasan dengan cara yang santun. Atau, kalau kita seorang kakak, sering tidak menghargai kerja seorang adik. Dalam hal mengerjakan pekerjaan rumah misalnya. Kadang kita ekspresikan ketidakpuasan kita dengan mimik jengkel bin bete. Belum lagi ngomel-ngomel ga jelas. Padahal kalau kita sikapi dengan senyum dan penghargaan, itu lebih bermanfaat. Bahkan untuk diri sendiri. Hati kita lebih terjaga kebersihannya. Itu lebih mulia dihadapanNya. Belum lagi, adik kita akan lebih bersemangat membantu dan akan semakin lebih baik tentunya.
Hidup itu seperti perjalanan. Mungkin suatu saat kita akan menemukan kegelapan dalam hidup kita. Itulah yang kusampaikan lewat sajak _LORONG_ . Jalan gelap itu bisa saja menjadi satu-satunya jalan yang harus kita lewati. Maka, hanya kepada Sang Cahaya kita meminta petunjuk. Segala kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Kuncinya ada pada keyakinan bahwa kita pasti bisa melewatinya. Kalau hati dan pikir sudah menutup segala kemungkinan, maka tertutuplah jalan. Bisa jadi prasangka-prasangka itu mewujud menjadi do’a. Maka lebih baik berprasangka positif dan ia akan menjelma menjadi hasil positif. Mau kan?
Syukuri apa yang kita dapatkan. Nilai ini baru merasuk tajam dalam pikirku, terucap dari seorang bapak penjual keripik. Hampir menitik air disudut pandangku saat beliau bercerita kisah hidupnya (akan kukisahkan secara khusus nanti). Nilai syukur pada apapun yang kita dapatkan menjadi sebuah kekuatan untuk bisa menjalani hidup ini dengan nikmat. Walaupun kita tidak mempunyai materi seperti orang kebanyakan, tapi ketika syukur senantiasa kita wujudkan maka kemudahan akan selalu kita temukan. Insyaallah.
25 tahun sudah kulalui hidup ini. Tentu masih banyak yang harus aku pelajari. Masih terlalu banyak yang harus aku ambil dari sekian banyak nilai hidup. Agar bisa merasa dan memaknai hidup.
Siapapun kalian yang telah membersamai hidupku selama ini, aku ucapkan TERIMA KASIH yang teramat sangat. Sungguh kalian adalah anugerah. Allah swt tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia.
Karena kalian, aku mengenal kasih sayang, cinta, iba.. dan seribu rasa serupa. Dan bersama kalian aku menggores marah, benci, iri... dan seribu lara lainnya. Untuk itu aku memohon maaf yang sebesar-besarnya. Sering diri ini lupa. Sering diri ini terlena. Ku mohon, maafkan aku...
____________________________________________________________________________
Wednesday, November 18, 2009
Thursday, November 12, 2009
Sepasang Mata di Suatu Senja
9 nopember 2009. Kembali (lagi) di suatu senja, menjelang pukul 6. Sehabis pulang kantor, kusibukkan diriku dengan pekerjaan rumah yang tadi pagi lupa kulakukan. Membuang sampah. Hmm… lupa atau malas ya? Ah tidak penting untuk dipikirkan, karena sekarang aku sudah bergerak untuk melakukan tugas itu. Hehe.
Perlahan tapi pasti kulangkahkan kakiku menuju tempat pembuangan sampah terdekat di komplek rumahku. Tidak jauh. Dari rumah hanya berjalan beberapa meter ke kiri, belok kanan, terus aja sampai mentok. Belok kanan lagi, sekitar sepuluh meter ada deh te pe es-nya.
Sesampainya di depan tempat berkumpulnya benda-benda yang oleh manusia dianggap tak berguna lagi itu, ku lempar satu plastik gede sampah yang kubawa dari rumah. Hups! Dan bersemayamlah sampah itu pada tempatnya. Lalu aku berbalik, kembali pulang. Dan... Ops! seketika itu juga mataku bertabrakan dengan sepasang mata. Mata itu menatapku. Tajam. Ia sedang berdiri, di dekat rerimbun semak. Ya, jelas sekali Ia sedang menatapku. Mengawasiku. Ya ampun, hatiku bergemuruh. Kucoba melangkahkan kakiku ke arah rumah. Tapi mata itu menarikku kembali untuk menatapnya. Deg! Ia masih di sana. Gagah sekali. Gumam hatiku. Ah, buat apa aku hiraukan. Cuekin aja. Begitu sisi hatiku yang lain bicara.
Akhirnya kulangkahkan kaki-ku menuju rumah. Tapi, baru beberapa langkah, hatiku kembali berdesir. Penasaran. Ya Rabb, kenapa Engkau ciptakan makhluk segagah itu. Entah pikiran apa yang membuatku memutar kaki. Melangkah mendekatinya. Aku harus menguak misteri ini. Sungguh, rasa ingin tahu-ku sangat besar memakan ruang pikirku.
Pelan. Kuberanikan diri melirik ke arahnya. Ya ampun... mata itu semakin tajam menatap. Tapi, kali ini ada semburat keheranan didalamnya. Heran kali sama diriku yang ternyata berani mendekatinya. Huh! Siapa takut. Demi melihat keheranan itu, aku semakin memantapkan hati dan langkah tuk mendekatinya. Tinggal beberapa langkah lagi, penasaranku akan terobati. Apa sih maksudnya? Berani sekali menggoda hatiku. Dialog diri kian menjadi.
Ah, sedikit lagi. Wajahnya semakin jelas terlihat. Dan... Aha! Mata itu, tak setajam tadi. Mata itu berubah menjadi mata yang heran. Haha! Aku lah yang menang. Begitu aku membatin sembari tersenyum. Baru saja mulutku ingin menyapa, tiba-tiba ia berbalik dan berlari menjauh dariku. Hah! Aku terdiam seketika. Kutatap dalam kaki tegapnya dari belakang. Tampak seperti itupun Ia terlihat gagah. Hh! Hatiku sungguh tergoda. Saat itu, di suatu senja...
Kenapa ia berlari? Mungkinkah ia malu? Atau takut? Atau heran? Yah, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Walaupun kecewa, kubiarkan saja itu terjadi. Biarkan sketsa itu melukis di kanvas duniaku. Sosok di balik semak yang mengukir misteri.
Sembari melangkah pulang, bibirku tak henti mengembangkan senyum. Ada kelucuan juga mengingat kejadian barusan. Tapi, kuakui bahwa aku juga sangat penasaran. Dengan mata yang tajam itu. Pada kakinya yang tegap. Warna kulitnya mengingatkanku pada kucingku yang telah tiada. Ia memiliki belang yang sama. Dasar putih dengan totol totol kecil berwarna hitam di punggungnya. Buntutnya yang pendek dengan bentuk melingkar juga persis sama. Aku jadi kangen keling, kucingku yang lama hilang saat aku masih kuliah dulu. Hiks. Sosok itu mirip banget. Apalagi matanya. Mata tajam yang menatap malu.
________________________________________________________________________________
*sebuah ungkapan cinta untuk seekor kucing dibalik semak, yang memandangiku saat buang sampah disuatu sore. Sori, kuganggu aktivitasmu mengais sampah-sampah itu...he, tp sungguh, aku tergoda ^_^.
Perlahan tapi pasti kulangkahkan kakiku menuju tempat pembuangan sampah terdekat di komplek rumahku. Tidak jauh. Dari rumah hanya berjalan beberapa meter ke kiri, belok kanan, terus aja sampai mentok. Belok kanan lagi, sekitar sepuluh meter ada deh te pe es-nya.
Sesampainya di depan tempat berkumpulnya benda-benda yang oleh manusia dianggap tak berguna lagi itu, ku lempar satu plastik gede sampah yang kubawa dari rumah. Hups! Dan bersemayamlah sampah itu pada tempatnya. Lalu aku berbalik, kembali pulang. Dan... Ops! seketika itu juga mataku bertabrakan dengan sepasang mata. Mata itu menatapku. Tajam. Ia sedang berdiri, di dekat rerimbun semak. Ya, jelas sekali Ia sedang menatapku. Mengawasiku. Ya ampun, hatiku bergemuruh. Kucoba melangkahkan kakiku ke arah rumah. Tapi mata itu menarikku kembali untuk menatapnya. Deg! Ia masih di sana. Gagah sekali. Gumam hatiku. Ah, buat apa aku hiraukan. Cuekin aja. Begitu sisi hatiku yang lain bicara.
Akhirnya kulangkahkan kaki-ku menuju rumah. Tapi, baru beberapa langkah, hatiku kembali berdesir. Penasaran. Ya Rabb, kenapa Engkau ciptakan makhluk segagah itu. Entah pikiran apa yang membuatku memutar kaki. Melangkah mendekatinya. Aku harus menguak misteri ini. Sungguh, rasa ingin tahu-ku sangat besar memakan ruang pikirku.
Pelan. Kuberanikan diri melirik ke arahnya. Ya ampun... mata itu semakin tajam menatap. Tapi, kali ini ada semburat keheranan didalamnya. Heran kali sama diriku yang ternyata berani mendekatinya. Huh! Siapa takut. Demi melihat keheranan itu, aku semakin memantapkan hati dan langkah tuk mendekatinya. Tinggal beberapa langkah lagi, penasaranku akan terobati. Apa sih maksudnya? Berani sekali menggoda hatiku. Dialog diri kian menjadi.
Ah, sedikit lagi. Wajahnya semakin jelas terlihat. Dan... Aha! Mata itu, tak setajam tadi. Mata itu berubah menjadi mata yang heran. Haha! Aku lah yang menang. Begitu aku membatin sembari tersenyum. Baru saja mulutku ingin menyapa, tiba-tiba ia berbalik dan berlari menjauh dariku. Hah! Aku terdiam seketika. Kutatap dalam kaki tegapnya dari belakang. Tampak seperti itupun Ia terlihat gagah. Hh! Hatiku sungguh tergoda. Saat itu, di suatu senja...
Kenapa ia berlari? Mungkinkah ia malu? Atau takut? Atau heran? Yah, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Walaupun kecewa, kubiarkan saja itu terjadi. Biarkan sketsa itu melukis di kanvas duniaku. Sosok di balik semak yang mengukir misteri.
Sembari melangkah pulang, bibirku tak henti mengembangkan senyum. Ada kelucuan juga mengingat kejadian barusan. Tapi, kuakui bahwa aku juga sangat penasaran. Dengan mata yang tajam itu. Pada kakinya yang tegap. Warna kulitnya mengingatkanku pada kucingku yang telah tiada. Ia memiliki belang yang sama. Dasar putih dengan totol totol kecil berwarna hitam di punggungnya. Buntutnya yang pendek dengan bentuk melingkar juga persis sama. Aku jadi kangen keling, kucingku yang lama hilang saat aku masih kuliah dulu. Hiks. Sosok itu mirip banget. Apalagi matanya. Mata tajam yang menatap malu.
________________________________________________________________________________
*sebuah ungkapan cinta untuk seekor kucing dibalik semak, yang memandangiku saat buang sampah disuatu sore. Sori, kuganggu aktivitasmu mengais sampah-sampah itu...he, tp sungguh, aku tergoda ^_^.
Aku dan Sebatang Rokok
Masih ingat catatanku yang berjudul “Sore yang Dilematis” (coba tengok deh). Disana aku bercerita tentang rokok. Nah, sekarang aku pengen berbicara lebih tentang benda yang satu ini. Semua ini tentang pengalamanku bersama sebatang rokok.
Pengalaman pertama. Pernah suatu ketika, aku berkumpul dengan kawan-kawan di panggung Gelora, sebuah pusat budaya di kota ku. Hanya kumpul-kumpul sambil main-main saja. Ga ada pertunjukkan apapun saat itu. Aku ingat waktu itu sore hari. Tiba-tiba ada seorang teman cowok yang datang sambil memegang sesuatu yang kecil berwarna putih. Rokok. Seketika itu juga aku kesal dan memarahinya. Sok ngasih nasehat karena aku emang ga suka dengan yang namanya rokok. “Nah, mau kah?” dia nantangin. Tanpa pikir panjang, akupun mengambil sebatang rokok dari tangannya. Dan dengan bengis bin sadis, ku patah jadi dua rokok itu. Persis di depan mukanya. Dia dan beberapa kawan yang lain melongo. Tak cukup dengan itu, kuinjak-injak rokok itu sampai tak berbentuk. Setelah itu akupun berlalu, pulang. Saat itu aku masih duduk di bangku es de.
Pengalaman kedua. Masih saat es de. Aku and the gank punya hobi yang rutin kami lakukan tiap minggu. Obok-obok pasar. Haha, ga penting ya, tapi itulah masa kecilku. Setiap gerombolan kami masuk pasar, pasti selanjutnya akan terjadi canda yang ga jelas. Demi menjaga solidaritas dan kebersamaan, kami ga pedulikan bagaimana orang-orang memandang. Aneh. Mungkin begitu pikir mereka. Tapi, kami kan masih anak-anak, wajar dong. Ah, pembelaan. Sampai, ada sesuatu yang sangat sakit tiba-tiba menyentuh kaki kananku. Ow! Begitu teriakku. Sakitnya seperti tertusuk jarum. Kemudian kulihat kakiku (betis bagian bawah). Beruntung, aku pake celana panjang waktu itu. Ops! Ada lubang kecil di celanaku. Aduh, kenapa ya? Heranku terjawab saat sekilas tampak didepanku ada bapak-bapak dengan sebatang rokok ditangannya melenggang tanpa rasa bersalah. Hh! Pantes. Rupanya percikan bara dari rokok si bapak itulah yang mengenai kaki-ku.
Pengalaman ketiga, saat aku tahu bahwa kakakku satu-satunya ternyata menjadi perokok. Marah. Inilah yang aku rasakan saat mengetahui kakakku bersentuhan dengan barang yang paling kubenci. Bagiku rokok adalah penyakit, ga ada manfaatnya sedikitpun kecuali perwujudan sebuah ketidakpercayaan diri dan egoisme. Setiap aku melihatnya merokok, selalu kupelototi. Teramat sering mulutku komat kamit mengeluarkan nasehat dan peringatan tentang bahaya rokok, tapi semua itu lewat begitu saja. “Ah, namanya juga lelaki.” Begitu kilahnya. Hh, tambah dongkol aku. Saat itu aku masih es em pe.
Pengalaman keempat. Sering aku melihat orang-orang (para perokok) dengan seenaknya membuang puntung rokok. Yang membuatku sebel adalah puntung rokok itu dibuang begitu saja tanpa dimatikan terlebih dahulu apinya. Apa ga mikir sih bagaimana dampak yang bisa diakibatkan. Mungkin saja kan kalau penyebab kebakaran hutan itu karena si puntung tadi. Bahkan kebakaran di pasar atau ditengah-tengah pemukiman yang sering terjadi, bisa jadi penyebabnya sama, rokok. Ada lagi yang semakin membuatku geram, ialah pengendara (baik roda dua atau empat) yang dengan seenaknya melemparkan puntung rokok yang belum mati. Bagaimana kalau puntung itu kena mata orang lain yang ada dibelakangnya? Adakah rasa bersalah di hati, sedangkan para pelaku ga mau tau kemana puntung itu mendarat.
Mungkin ini hanya sekelumit pengalamanku yang juga beberapa diantara kalian, bisa jadi sempat mengalaminya. Ada beberapa hal yang ingin kusimpulkan mengenai multiple efek para perokok, terutama para perokok aktif yaitu :
1. Perokok aktif adalah penyebab utama munculnya perokok pasif
2. Perokok bisa menjadi penyebab kebakaran hutan atau yang lainnya
3. Perokok bisa menjadi penyebab kecelakaan yang dialami seseorang akibat puntung yang belum mati
4. Perokok menjadi penyebab penyakit hati bagi orang lain, yaitu dongkol alias marah alias kesal bin sebel
Dari semua itu, tidak kah kalian sadar wahai perokok bahwa kalian adalah pelaku kejahatan terselubung! Bagaimana kerugian-kerugian yang diderita orang lain hanya karena gengsi dan egoisme yang kalian perturutkan!
Hanya ingin berbagi dan mengingatkan. Semoga manfaat.
Pengalaman pertama. Pernah suatu ketika, aku berkumpul dengan kawan-kawan di panggung Gelora, sebuah pusat budaya di kota ku. Hanya kumpul-kumpul sambil main-main saja. Ga ada pertunjukkan apapun saat itu. Aku ingat waktu itu sore hari. Tiba-tiba ada seorang teman cowok yang datang sambil memegang sesuatu yang kecil berwarna putih. Rokok. Seketika itu juga aku kesal dan memarahinya. Sok ngasih nasehat karena aku emang ga suka dengan yang namanya rokok. “Nah, mau kah?” dia nantangin. Tanpa pikir panjang, akupun mengambil sebatang rokok dari tangannya. Dan dengan bengis bin sadis, ku patah jadi dua rokok itu. Persis di depan mukanya. Dia dan beberapa kawan yang lain melongo. Tak cukup dengan itu, kuinjak-injak rokok itu sampai tak berbentuk. Setelah itu akupun berlalu, pulang. Saat itu aku masih duduk di bangku es de.
Pengalaman kedua. Masih saat es de. Aku and the gank punya hobi yang rutin kami lakukan tiap minggu. Obok-obok pasar. Haha, ga penting ya, tapi itulah masa kecilku. Setiap gerombolan kami masuk pasar, pasti selanjutnya akan terjadi canda yang ga jelas. Demi menjaga solidaritas dan kebersamaan, kami ga pedulikan bagaimana orang-orang memandang. Aneh. Mungkin begitu pikir mereka. Tapi, kami kan masih anak-anak, wajar dong. Ah, pembelaan. Sampai, ada sesuatu yang sangat sakit tiba-tiba menyentuh kaki kananku. Ow! Begitu teriakku. Sakitnya seperti tertusuk jarum. Kemudian kulihat kakiku (betis bagian bawah). Beruntung, aku pake celana panjang waktu itu. Ops! Ada lubang kecil di celanaku. Aduh, kenapa ya? Heranku terjawab saat sekilas tampak didepanku ada bapak-bapak dengan sebatang rokok ditangannya melenggang tanpa rasa bersalah. Hh! Pantes. Rupanya percikan bara dari rokok si bapak itulah yang mengenai kaki-ku.
Pengalaman ketiga, saat aku tahu bahwa kakakku satu-satunya ternyata menjadi perokok. Marah. Inilah yang aku rasakan saat mengetahui kakakku bersentuhan dengan barang yang paling kubenci. Bagiku rokok adalah penyakit, ga ada manfaatnya sedikitpun kecuali perwujudan sebuah ketidakpercayaan diri dan egoisme. Setiap aku melihatnya merokok, selalu kupelototi. Teramat sering mulutku komat kamit mengeluarkan nasehat dan peringatan tentang bahaya rokok, tapi semua itu lewat begitu saja. “Ah, namanya juga lelaki.” Begitu kilahnya. Hh, tambah dongkol aku. Saat itu aku masih es em pe.
Pengalaman keempat. Sering aku melihat orang-orang (para perokok) dengan seenaknya membuang puntung rokok. Yang membuatku sebel adalah puntung rokok itu dibuang begitu saja tanpa dimatikan terlebih dahulu apinya. Apa ga mikir sih bagaimana dampak yang bisa diakibatkan. Mungkin saja kan kalau penyebab kebakaran hutan itu karena si puntung tadi. Bahkan kebakaran di pasar atau ditengah-tengah pemukiman yang sering terjadi, bisa jadi penyebabnya sama, rokok. Ada lagi yang semakin membuatku geram, ialah pengendara (baik roda dua atau empat) yang dengan seenaknya melemparkan puntung rokok yang belum mati. Bagaimana kalau puntung itu kena mata orang lain yang ada dibelakangnya? Adakah rasa bersalah di hati, sedangkan para pelaku ga mau tau kemana puntung itu mendarat.
Mungkin ini hanya sekelumit pengalamanku yang juga beberapa diantara kalian, bisa jadi sempat mengalaminya. Ada beberapa hal yang ingin kusimpulkan mengenai multiple efek para perokok, terutama para perokok aktif yaitu :
1. Perokok aktif adalah penyebab utama munculnya perokok pasif
2. Perokok bisa menjadi penyebab kebakaran hutan atau yang lainnya
3. Perokok bisa menjadi penyebab kecelakaan yang dialami seseorang akibat puntung yang belum mati
4. Perokok menjadi penyebab penyakit hati bagi orang lain, yaitu dongkol alias marah alias kesal bin sebel
Dari semua itu, tidak kah kalian sadar wahai perokok bahwa kalian adalah pelaku kejahatan terselubung! Bagaimana kerugian-kerugian yang diderita orang lain hanya karena gengsi dan egoisme yang kalian perturutkan!
Hanya ingin berbagi dan mengingatkan. Semoga manfaat.
Monday, October 19, 2009
“Pelabuhan Rasa di Bukit Tinggi” (Jejak Lain di Ranah Minang)
Jam menunjuk ke angka 7 malam waktu indonesia barat. Kuhirup dalam udara malam dari lantai dua The Hill’s Hotel. Sengaja kubuka jendela kamarku, ingin kurasakan dinginnya malam di Bukit Tinggi. Ngarai sianok yang sore tadi kulihat gagah berdiri tepat di depan kamarku, kini hanya mengisyaratkan kerlip lampu rumah-rumah yang ada dikaki gunung Singgalang. It’s amazing. Begitulah Bukit Tinggi mempesonaku. Tak ingin pesona itu hilang, maka kubiarkan jemariku menari-nari melukiskannya dalam sebuah untaian kata. Kata yang sangat sederhana.
Inilah sebuah jejak langkah seorang lajang di ranah minang, melihat betapa indah anugerah hidup yang diberikan Sang Maha padanya. Bukan atas runtuhnya padang akibat merekahnya bumi. Tapi, jejak yang lain di Bukit Tinggi.
Bismillah…
Lembah anai.. Jalan berkelok, tebing tinggi mengelilingi, pepohonan nan rimbun, serta terdapat panorama air terjun yang memukau. Menerjang tebing dan dengan megahnya menampakkan riaknya di salah satu sudut jalan lembah. Mengisyaratkan kelembutan dengan pancaran kerendahan. Sungguh indah nian kurasakan.
Sebuah rasa kurindukan. Rasa yang lama tak kusampaikan secara lisan, pada Yang Terkasih… ialah ketundukan.
Ngarai Sianok dan gunung Singgalang. Dua kembara yang tak terpisahkan dengan sebuah anak sungai diantaranya. Mengalir memberikan harapan bagi manusia-manusia yang telah menapak hidupnya disepanjang alirannya. Tebing-tebing ngarai begitu luar biasa mengejewantahkan kepercayaan dirinya. Singgalang bagaikan sebuah kekuatan, sedangkan sianok laksana sebuah keyakinan yang meneguhkan. Kekuatan itu akan melawan siapa saja ketika keyakinannya terusik. Begitulah lukisan makna yang tersirat dari balik kabut yang menyelimuti keduanya pagi itu.
Mengusik asa dihatiku, sebuah asa yang patut ditanya setiap saat, apa kabar keyakinanku padaNya?
Jam Gadang. Dentingnya bisa saja muncul tanpa dikira. Pernah ku dengar, ternyata jarum jam menunjukkan angka 6.30 pagi. Aneh! Itu awal kesan yang kutangkap. Biasanya bunyi jam akan bersuara pada waktu-waktu yang tepat, 5- 6- 7 dan seterusnya. Tapi itulah Ia, jam dengan ukuran yang sangat besar. Menjadi megah di alun-alun kota. Mengingatkan siapa saja di dekatnya untuk memperhatikan waktu. Karena waktu begitu cepat hadir dan bisa begitu saja lenyap.
Satu rasa lagi menyelinap di relung jiwa ku. Sebuah rasa untuk lebih lagi mengungkapkannya. Ialah syukur...
Pasar Atas. Berbagai barang dari pakaian, sepatu, sampai perhiasan dijual ditempat ini. Tempatnya memang berada di dataran tinggi. Saat berpijak di sana, aku bisa melihat kota dibawahnya. Memasuki pertokoan, sungguh surga dunia bagi wanita. Yang hobi belanja pasti bakal borong banyak. Bagus-bagus semua. Apalagi harga jauh lebih murah daripada di daerahku. Yang paling banyak dicari pendatang biasanya mukena, pakaian solat wanita. Di sana juga banyak souvenir-sovenir bukit tinggi. Dan semuanya bagus-bagus. Satu hal yang membuatku terkesan di tempat itu adalah keramahan orang-orangnya. Mereka senantiasa menyapa pelanggan dengan tidak memaksa, hanya sekedar meyakinkan untuk mampir dan melihat barang-barang jualannya. Tentu dengan senyum mereka yang terkembang. Sungguh hadir ditengah-tengah mereka tidak membuatku canggung, seperti di rumah sendiri. Walaupun aku sama sekali tidak bisa berbahasa minang.
Satu lagi rasa yang lama kurindu. Sebuah rasa yang lama tak menyentuh sisi manusiawiku. Rasa itu penghargaan.
Hanya sejenak aku di bukit tinggi. Tapi, kala mobil kijang yang kutumpangi bergerak meninggalkannya, hatiku pilu. Kutatap dalam singgalang yang hanya diam. Berharap dia mampu menghentikan waktu dan membiarkanku lebih lama merasakan kasih di bukit tinggi, tempat dimana telah kulabuhkan rasa.
Akhirnya kupejamkan mataku dan kuhirup dalam-dalam udara yang masuk dari kaca mobil yang sengaja dibiarkan terbuka. Selamat tinggal bukit tinggi. Kutinggalkan hatiku di kaki Singgalang. Hingga satu saat nanti aku akan kembali tuk mengambilnya.
(catatan ini hanya sebuah ungkapan “jatuh cinta”-nya seorang lajang dengan satu sisi di ranah minang, sebuah perjalanan yang sangat sayang untuk diabaikan)
Wednesday, October 14, 2009
Sebuah Resensi buku
Catatan Wanita Lajang : Dan Tersenyumlah Kepada Dunia
Oleh Aditya Agustyana
Begitulah judul buku ini, pffffh, sebuah hembusan tanda keprihatinan akhirnya keluar juga dari mulutku, buku setebal 236 Halaman ini bercerita banyak hal tentang kepedihan dan kesedihan wanita yang ketika memasuki usia matang masih juga belum didampingi oleh pangeran terkasih, imbasnya ini telah membuatku lebih empati, simpati dan BANGGA kepada saudariku-saudariku yang konon kabarnya punya perasaan sangat halus. Ditulis oleh 5 lajangster sabar dan perkasa (semoga Alloh SWT meridhoinya, amiin) yaitu : Azimah Rahayu, Lusiana M Hevita, Otrimayani, Rahmadiyanti dan Nanik Susanti.
Mereka menulis dengan bahasa yang begitu renyah yang dengan mudah dapat dilahap oleh rasa maupun akal. Memang, kesedihan dan kepedihan kadang menelusup dalam cerita ini tapi tidak jarang pula derita itu pun diselingi rasa sabar, optimis dan syukur kepada Maha Penguasa. mereka bercerita baik pengalaman pribadi maupun pengalaman teman2 terdekatnya yang sudah bergelar “mbak” tapi belum juga dikaruniai jodoh.
Menikah, siapa sih orang normal di dunia yang tidak menginginkannya, tuntasnya separuh dien, tentramnya hati karena selalu ada kekasih yang mendampingi untuk berbagi segala hal dari keluh kesah sampai canda tawa riang. Namun menuju hal tersebut tidak semua orang dapat mengusahakannya dengan mudah, 21 kali proses, begitulah salah satu judul kisah diantara beberapa kisah di buku ini, 21 kali proses menuju pernikahan dijalani seorang akhwat dalam waktu 7 tahun terakhir, dari umur 22 sampai 29 tahun yang semuanya gagal, banyak hal yang menyebabkan proses itu kandas di tengah jalan, dari mulai kriteria untuk calon suami yang terlalu ideal, terus pernah juga menemukan ikhwan yg menurut dia ideal dan sudah pada tahap khitbah tetapi ketika akan menikah, prosesnya terhenti karena orangtua si ikhwan membatalkannya !!! dan ada lagi kegagalan berikutnya yang membuat aku tak kuasa untuk membendung air mata yaitu pada usia 29 tahun akhwat tersebut akhirnya kembali menemukan pasangan yang dia anggap ideal, prosesnya berjalan dengan lancar tapi apa mau dikata, sebelum akad nikah sempat terucap, ternyata sang ikhwan meninggal dalam suatu kecelakaan.
Tapi satu yang aku salut dari akhwat tersebut, ternyata sekarang dia tetap menikmati dunianya, katanya : “tidak semua orang dapat mengalami hal ini, pengalaman adalah guru yang paling berharga, dari sanalah kita mendapatkan hikmah dan pelajaran yang banyak dari Alloh SWT. Dari proses tersebut ada beberapa pelajaran yang telah dia tarik diantaranya :
1. Hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan
2. Setiap orang benar-benar memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan mereka layak mendapati penghargaan layaknya sebagai seorang manusia
3. Lebih baik mencintai apa yang telah dimiliki ketimbang mencintai sesuatu yang belum diperoleh
4. Jodoh adalah Takdir Alloh SWT, bahkan hal-hal sepele pun bisa menjadi penyebab kegagalannya
Di sisi lain kisah, ada juga akhwat yang tenang dan berpandangan sangat positif, Life Begins At Forty, itulah kisahnya dan prinsipnya, kita jangan suudzon dulu, bukan, bukan dia yang bermaksud dan berniat menikah diumur 40 tahun, sejak lulus kuliah akhwat ini mengaku dia bukannya tanpa usaha menuju ke arah itu, ketika dia bekerja pun, dia sempat punya harapan kepada ikhwan sekantornya, mereka berhubungan dekat sebagai rekan kerja, diskusi2 tumbuh diantara mereka berdua tapi apa daya, tampaknya si ikhwan hanya ingin menjadikannya teman diskusi dan bukan sebagai istri, hmm tangan kembali hanya bertepuk sebelah, setahun dia berjuang untuk memulihkan kondisi hatinya. Berbagai ujian telah mendera batinnya. Sekarang usianya tidak lagi muda, 33 tahun !!, dan dia bersyukur dia masih diberi ketenangan oleh Alloh SWT walaupun keinginan menikah tetaplah ada. Dia teringat kisah khadijah .r.a yang menikah di umur 40 tahun, 7 tahun waktu yang tersedia membuat dia akan terus berusaha, belajar mengumpulkan bekal untuk sebuah tanggung jawab besar, menjadi istri dalam suatu keluarga.
Bagaimana jika sebelum umur 40 dia meninggal, dia berkata : “saya akan memohon kepada Alloh, untuk meridhoi saya, saya telah memulai langkah kemarin dan sempat jatuh, sekarang saya sedang mencapai cita-cita saya”
Lalu bagaimana jika setelah umur 40 tahun cita-citanya belum tercapai, dia tertawa renyah dan berkata : “saya akan menyusun kembali cita-cita baru agar saya bisa mencapainya pada usia 50 tahun”
“Carilah Ilmu dari Buaian dampai Ke Liang Lahat”, begitulah kedudukan ilmu di sisi Alloh, akhwat lain bercerita di umurnya yang sudah kepala 3, berbagai ilmu dia lahap sambil menunggu masa penantian, dan dia sekarang sedang proses untuk mengambil program S3, malangnya keluarga besarnya menghalanginya, menurut keluarganya : “laki2 cenderung ngeper kalo bersanding dengan wanita yang jenjang pendidikannya lebih tinggi”, hmm sebuah alasan yang tidak dapat diterima menurutnya, lagipula dia tak tahan menahan beban mental bila dia diam mendekam di rumah sambil menunggu pangeran datang, dia berkata “memangnya Alloh SWT memerintahkan janganlah kuliah S3 tetapi menikahlah terlebih dahulu ?”, lagipula lanjutnya lagi “siapa tahu dengan aku kuliah lagi aku malah mendapati pasanganku di kelas tersebut, ibarat petani yang menemukan belut ketika menanam padi, siapa tahu aku mendapatkan bonus yang berupa belut itu he he”
selanjutnya, Buku ini bukanlah tanpa cerita konyol, di bagian lain kisah seorang akhwat berumur matang bertutur, teman2 kantor sangat perhatian dan prihatin akan kondisinya yang belum mempunyai suami. Seorang teman wanitanya yang belum begitu paham tentang seluk beluk agama Islam, menawarkan lelaki padanya, akhwat itu lantas berpikir, “hmm tidak ada salahnya dicoba, toh namanya juga ikhtiar, siapa tahu lelaki yang ditawarkan oleh temannya itu walaupun tidak begitu paham tentang islam, asal dia bereperilaku hanif, nah bisa jadi ladang dakwah nih ketika menikah nanti”
kemudian, “Gubraks”, si lelaki mengajaknya nonton, “proses macam apa ini ?” dia bergumam dalam hati, untungnya si mak comblang meyakinkan bahwa ke bioskopnya rame2 bareng dengan teman2 sekantor, hatta, hari itupun tiba, “hiks, ternyata si lelaki membatalkan janjinya karena menurut mak comblangnya dia sedang lembur”
kesempatan kedua lelaki tersebut mengajak untuk bertemu lagi, si akhwat pun mencoba meminta kepastian, “tidak ada lagi pembatalan kali ini”, mak comblangnya meyakinkannya, si akhwat tersebut akhirnya mencoba maju dan bersiap-siap, akhwat tsb adalah seseorang yang berpenampilan sederhana, jadi dia tidak punya baju atau sepatu yang dikatakan “bagus” untuk pertemuan malam nanti, namun karena si akhwat berniat memaksimalkan usaha, maka dia pun memaksakan diri membeli satu stel pakaian dan sepatu untuk keperluan ikhtiarnya. Di kantor dia gelisah dan tegang, ketika dia berada di mushala, mak comblang menghampirinya dan memberi kabar yang kurang enak, kembali si lelaki membatalkan janjinya. “hmm, ya sudahlah mungkin belum saatnya”.
Nah malamnya si akhwat melakukan suatu kebiasaan iseng, yaitu me-miscalled teman2nya, dan salah satunya si lelaki itu, tidak lama kemudian ada SMS masuk : “ngapain malem2 ngeganggu suami orang, mo ngajak kencan yah”, dezigh, aura kemarahan langsung mendekap dirinya, si akhwat marah kepada si lelaki dan mak comblangnya, dia mencoba menghubungi mak comblangnya beberapa kali, ternyata mailbox dan dia tidak berhasil, akhirnya dia memilih berwudhu dan shalat untuk meredam kemarahannya.
Esoknya akhwat tersebut kembali tenang, lalu mencoba meminta keterangan dari mak comblangnya, mak comblangnya bercerita bahwa dia pun tidak tahu kalau si lelaki itu sudah punya istri, akhirnya setalah diteliti dalam 2 minggu berikutnya, memang si lelaki itu sudah punya istri dan ternyata rumah tangganya di ambang kehancuran. Cukup sampai di sini, akhwat tersebut berkata, mak comblangnya pada akhirnya meminta maaf padanya dan dengan menangis mereka pun berpelukan.
~THE END~
Sumber : http://adityakircon.blogsome.com/2006/05/18/catatan-wanita-lajang/
Oleh Aditya Agustyana
Begitulah judul buku ini, pffffh, sebuah hembusan tanda keprihatinan akhirnya keluar juga dari mulutku, buku setebal 236 Halaman ini bercerita banyak hal tentang kepedihan dan kesedihan wanita yang ketika memasuki usia matang masih juga belum didampingi oleh pangeran terkasih, imbasnya ini telah membuatku lebih empati, simpati dan BANGGA kepada saudariku-saudariku yang konon kabarnya punya perasaan sangat halus. Ditulis oleh 5 lajangster sabar dan perkasa (semoga Alloh SWT meridhoinya, amiin) yaitu : Azimah Rahayu, Lusiana M Hevita, Otrimayani, Rahmadiyanti dan Nanik Susanti.
Mereka menulis dengan bahasa yang begitu renyah yang dengan mudah dapat dilahap oleh rasa maupun akal. Memang, kesedihan dan kepedihan kadang menelusup dalam cerita ini tapi tidak jarang pula derita itu pun diselingi rasa sabar, optimis dan syukur kepada Maha Penguasa. mereka bercerita baik pengalaman pribadi maupun pengalaman teman2 terdekatnya yang sudah bergelar “mbak” tapi belum juga dikaruniai jodoh.
Menikah, siapa sih orang normal di dunia yang tidak menginginkannya, tuntasnya separuh dien, tentramnya hati karena selalu ada kekasih yang mendampingi untuk berbagi segala hal dari keluh kesah sampai canda tawa riang. Namun menuju hal tersebut tidak semua orang dapat mengusahakannya dengan mudah, 21 kali proses, begitulah salah satu judul kisah diantara beberapa kisah di buku ini, 21 kali proses menuju pernikahan dijalani seorang akhwat dalam waktu 7 tahun terakhir, dari umur 22 sampai 29 tahun yang semuanya gagal, banyak hal yang menyebabkan proses itu kandas di tengah jalan, dari mulai kriteria untuk calon suami yang terlalu ideal, terus pernah juga menemukan ikhwan yg menurut dia ideal dan sudah pada tahap khitbah tetapi ketika akan menikah, prosesnya terhenti karena orangtua si ikhwan membatalkannya !!! dan ada lagi kegagalan berikutnya yang membuat aku tak kuasa untuk membendung air mata yaitu pada usia 29 tahun akhwat tersebut akhirnya kembali menemukan pasangan yang dia anggap ideal, prosesnya berjalan dengan lancar tapi apa mau dikata, sebelum akad nikah sempat terucap, ternyata sang ikhwan meninggal dalam suatu kecelakaan.
Tapi satu yang aku salut dari akhwat tersebut, ternyata sekarang dia tetap menikmati dunianya, katanya : “tidak semua orang dapat mengalami hal ini, pengalaman adalah guru yang paling berharga, dari sanalah kita mendapatkan hikmah dan pelajaran yang banyak dari Alloh SWT. Dari proses tersebut ada beberapa pelajaran yang telah dia tarik diantaranya :
1. Hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan
2. Setiap orang benar-benar memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan mereka layak mendapati penghargaan layaknya sebagai seorang manusia
3. Lebih baik mencintai apa yang telah dimiliki ketimbang mencintai sesuatu yang belum diperoleh
4. Jodoh adalah Takdir Alloh SWT, bahkan hal-hal sepele pun bisa menjadi penyebab kegagalannya
Di sisi lain kisah, ada juga akhwat yang tenang dan berpandangan sangat positif, Life Begins At Forty, itulah kisahnya dan prinsipnya, kita jangan suudzon dulu, bukan, bukan dia yang bermaksud dan berniat menikah diumur 40 tahun, sejak lulus kuliah akhwat ini mengaku dia bukannya tanpa usaha menuju ke arah itu, ketika dia bekerja pun, dia sempat punya harapan kepada ikhwan sekantornya, mereka berhubungan dekat sebagai rekan kerja, diskusi2 tumbuh diantara mereka berdua tapi apa daya, tampaknya si ikhwan hanya ingin menjadikannya teman diskusi dan bukan sebagai istri, hmm tangan kembali hanya bertepuk sebelah, setahun dia berjuang untuk memulihkan kondisi hatinya. Berbagai ujian telah mendera batinnya. Sekarang usianya tidak lagi muda, 33 tahun !!, dan dia bersyukur dia masih diberi ketenangan oleh Alloh SWT walaupun keinginan menikah tetaplah ada. Dia teringat kisah khadijah .r.a yang menikah di umur 40 tahun, 7 tahun waktu yang tersedia membuat dia akan terus berusaha, belajar mengumpulkan bekal untuk sebuah tanggung jawab besar, menjadi istri dalam suatu keluarga.
Bagaimana jika sebelum umur 40 dia meninggal, dia berkata : “saya akan memohon kepada Alloh, untuk meridhoi saya, saya telah memulai langkah kemarin dan sempat jatuh, sekarang saya sedang mencapai cita-cita saya”
Lalu bagaimana jika setelah umur 40 tahun cita-citanya belum tercapai, dia tertawa renyah dan berkata : “saya akan menyusun kembali cita-cita baru agar saya bisa mencapainya pada usia 50 tahun”
“Carilah Ilmu dari Buaian dampai Ke Liang Lahat”, begitulah kedudukan ilmu di sisi Alloh, akhwat lain bercerita di umurnya yang sudah kepala 3, berbagai ilmu dia lahap sambil menunggu masa penantian, dan dia sekarang sedang proses untuk mengambil program S3, malangnya keluarga besarnya menghalanginya, menurut keluarganya : “laki2 cenderung ngeper kalo bersanding dengan wanita yang jenjang pendidikannya lebih tinggi”, hmm sebuah alasan yang tidak dapat diterima menurutnya, lagipula dia tak tahan menahan beban mental bila dia diam mendekam di rumah sambil menunggu pangeran datang, dia berkata “memangnya Alloh SWT memerintahkan janganlah kuliah S3 tetapi menikahlah terlebih dahulu ?”, lagipula lanjutnya lagi “siapa tahu dengan aku kuliah lagi aku malah mendapati pasanganku di kelas tersebut, ibarat petani yang menemukan belut ketika menanam padi, siapa tahu aku mendapatkan bonus yang berupa belut itu he he”
selanjutnya, Buku ini bukanlah tanpa cerita konyol, di bagian lain kisah seorang akhwat berumur matang bertutur, teman2 kantor sangat perhatian dan prihatin akan kondisinya yang belum mempunyai suami. Seorang teman wanitanya yang belum begitu paham tentang seluk beluk agama Islam, menawarkan lelaki padanya, akhwat itu lantas berpikir, “hmm tidak ada salahnya dicoba, toh namanya juga ikhtiar, siapa tahu lelaki yang ditawarkan oleh temannya itu walaupun tidak begitu paham tentang islam, asal dia bereperilaku hanif, nah bisa jadi ladang dakwah nih ketika menikah nanti”
kemudian, “Gubraks”, si lelaki mengajaknya nonton, “proses macam apa ini ?” dia bergumam dalam hati, untungnya si mak comblang meyakinkan bahwa ke bioskopnya rame2 bareng dengan teman2 sekantor, hatta, hari itupun tiba, “hiks, ternyata si lelaki membatalkan janjinya karena menurut mak comblangnya dia sedang lembur”
kesempatan kedua lelaki tersebut mengajak untuk bertemu lagi, si akhwat pun mencoba meminta kepastian, “tidak ada lagi pembatalan kali ini”, mak comblangnya meyakinkannya, si akhwat tersebut akhirnya mencoba maju dan bersiap-siap, akhwat tsb adalah seseorang yang berpenampilan sederhana, jadi dia tidak punya baju atau sepatu yang dikatakan “bagus” untuk pertemuan malam nanti, namun karena si akhwat berniat memaksimalkan usaha, maka dia pun memaksakan diri membeli satu stel pakaian dan sepatu untuk keperluan ikhtiarnya. Di kantor dia gelisah dan tegang, ketika dia berada di mushala, mak comblang menghampirinya dan memberi kabar yang kurang enak, kembali si lelaki membatalkan janjinya. “hmm, ya sudahlah mungkin belum saatnya”.
Nah malamnya si akhwat melakukan suatu kebiasaan iseng, yaitu me-miscalled teman2nya, dan salah satunya si lelaki itu, tidak lama kemudian ada SMS masuk : “ngapain malem2 ngeganggu suami orang, mo ngajak kencan yah”, dezigh, aura kemarahan langsung mendekap dirinya, si akhwat marah kepada si lelaki dan mak comblangnya, dia mencoba menghubungi mak comblangnya beberapa kali, ternyata mailbox dan dia tidak berhasil, akhirnya dia memilih berwudhu dan shalat untuk meredam kemarahannya.
Esoknya akhwat tersebut kembali tenang, lalu mencoba meminta keterangan dari mak comblangnya, mak comblangnya bercerita bahwa dia pun tidak tahu kalau si lelaki itu sudah punya istri, akhirnya setalah diteliti dalam 2 minggu berikutnya, memang si lelaki itu sudah punya istri dan ternyata rumah tangganya di ambang kehancuran. Cukup sampai di sini, akhwat tersebut berkata, mak comblangnya pada akhirnya meminta maaf padanya dan dengan menangis mereka pun berpelukan.
~THE END~
Sumber : http://adityakircon.blogsome.com/2006/05/18/catatan-wanita-lajang/
Senyum itu berkata : “Ambo takut, Uni…”
Wajah anak-anak itu polos sekali. Saat kusapa, mereka sedang asyik bermain-main dengan bayangan mereka sendiri yang terpantul di badan mobil kijang yang kami bawa. Usia mereka kira-kira 7 – 8 tahun. Sambil bercanda, akupun iseng bertanya ke mereka.
“Waktu gempa kemaren, adik takut ga?” kusesali lontaran pertanyaan barusan. Tapi, cukup mengejutkan saat mendengar ia menjawab,
“Takut, Uni…” singkat, tapi bukan kalimat itu yang mengejutkanku, melainkan bagaimana ekspresi gadis kecil itu sembari masih asyik bermain-main. Dia tersenyum. Manis sekali. Tidak ada beban di sana.
Oh Rabbi, apa yang ingin kau ajarkan padaku? Apakah artinya mereka tidak perlu dibantu Apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, sudah sangat jelas menjawabnya. Rumahnya hancur, sekolahnya darurat, bahkan seragam juga tak punya. Tapi, anak-anak itu masih bisa tersenyum. Sungguh luar biasa!
Hmm... aku tau! Mereka tersenyum untuk Indonesia. Untuk masa depan yang lebih indah. Aku jadi malu sendiri. Bagaimana sering mengeluh hanya karena harus nambah jam kantor beberapa jam demi menyelesaikan deadline. Atau dongkol-dongkol ga jelas gara-gara berprasangka yang tidak-tidak. Lihat mereka! Betapa tabah menghadapi cobaan yang sangat besar, bahkan ada yang kehilangan keluarga. Betapa rasa syukur masih mereka tampakkan saat derasnya kepedihan. Aku ingat, saat menyapa seorang ibu tua di pinggir jalan, ia berkata “saya sabar kok, ini adalah jalan dari Allah...”. Subhanallah, kecil sekali diri ini.
Sungguh, berada di Padang Pariaman, episentrum gempa di Sumatera Barat, aku mendapati sebuah spirit untuk bangkit, pantang menyerah, dan berserah diri pada Sang Penguasa.
Senyum mereka buktinya! Terima kasih Indonesia, begitu juga sirat maknanya.
10.21 am wib
Posko Dompet Dhuafa, Padang
“Waktu gempa kemaren, adik takut ga?” kusesali lontaran pertanyaan barusan. Tapi, cukup mengejutkan saat mendengar ia menjawab,
“Takut, Uni…” singkat, tapi bukan kalimat itu yang mengejutkanku, melainkan bagaimana ekspresi gadis kecil itu sembari masih asyik bermain-main. Dia tersenyum. Manis sekali. Tidak ada beban di sana.
Oh Rabbi, apa yang ingin kau ajarkan padaku? Apakah artinya mereka tidak perlu dibantu Apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, sudah sangat jelas menjawabnya. Rumahnya hancur, sekolahnya darurat, bahkan seragam juga tak punya. Tapi, anak-anak itu masih bisa tersenyum. Sungguh luar biasa!
Hmm... aku tau! Mereka tersenyum untuk Indonesia. Untuk masa depan yang lebih indah. Aku jadi malu sendiri. Bagaimana sering mengeluh hanya karena harus nambah jam kantor beberapa jam demi menyelesaikan deadline. Atau dongkol-dongkol ga jelas gara-gara berprasangka yang tidak-tidak. Lihat mereka! Betapa tabah menghadapi cobaan yang sangat besar, bahkan ada yang kehilangan keluarga. Betapa rasa syukur masih mereka tampakkan saat derasnya kepedihan. Aku ingat, saat menyapa seorang ibu tua di pinggir jalan, ia berkata “saya sabar kok, ini adalah jalan dari Allah...”. Subhanallah, kecil sekali diri ini.
Sungguh, berada di Padang Pariaman, episentrum gempa di Sumatera Barat, aku mendapati sebuah spirit untuk bangkit, pantang menyerah, dan berserah diri pada Sang Penguasa.
Senyum mereka buktinya! Terima kasih Indonesia, begitu juga sirat maknanya.
10.21 am wib
Posko Dompet Dhuafa, Padang
Friday, September 25, 2009
Lemahnya Sang Perindu
Di atas sajadah malam kulumpuhkan raga
Mengalirkan riak-riak hati
Menuruni lembah kerendahan
Aku manusia, hanya manusia
Tak ada lebih dari diriku
Tak secuil hak atas diriku
Di atas sajadah malam kusembahkan jiwa
Mengiba jalan untuk bahagia
Menadah setetes cinta di dunia
Aku manusia, hanya manusia
Tak ada lebih dari diriku
Tak secuil hak atas diriku
Di atas sajadah malam kuharap jawab
Bukan atas tanya
Hanya membangun keteguhan
Aku manusia, hanya manusia
Tak ada lebih dari diriku
Tak secuil hak atas diriku
Di atas sajadah malam kurindu kasih
Membelai lembut langkah
Menepiskan segala gundah
Ya Rabb...
Engkaulah tempat kupinta segala
Engkaulah tempat kuurai doa
Ya Rahim...
Kusadar diri ini lemah
Diri ini penuh cela
Tapi bukan karena air mata-ku
Bukan pula karena batas fisik-ku
Aku tak sekuat yang kukira
Hanya fana yang membutakan mata
Aku manusia, hanya manusia
Tak ada lebih dari diriku
Tak secuil hak atas diriku
Ya Huda...
Gambarkan padaku bentuk kekuatanku
Pada kanvas langit dunia
Agar ku bisa membangunnya
Di jiwa, diraga
Ya Rahman...
Peluk akalku dalam ilmu-Mu
Hingga tak tercerai dalam serpihan kesombongan
Sekali lagi Ya Rabb...
Aku manusia, hanya manusia
Tak ada lebih dari diriku
Tak secuil hak atas diriku
Ku berharap dengan sangat
Atas segala pinta
18-09-2009
05.30 am
terinspirasi dari tokoh Aya, Para Pencari Tuhan jilid 3
Mengalirkan riak-riak hati
Menuruni lembah kerendahan
Aku manusia, hanya manusia
Tak ada lebih dari diriku
Tak secuil hak atas diriku
Di atas sajadah malam kusembahkan jiwa
Mengiba jalan untuk bahagia
Menadah setetes cinta di dunia
Aku manusia, hanya manusia
Tak ada lebih dari diriku
Tak secuil hak atas diriku
Di atas sajadah malam kuharap jawab
Bukan atas tanya
Hanya membangun keteguhan
Aku manusia, hanya manusia
Tak ada lebih dari diriku
Tak secuil hak atas diriku
Di atas sajadah malam kurindu kasih
Membelai lembut langkah
Menepiskan segala gundah
Ya Rabb...
Engkaulah tempat kupinta segala
Engkaulah tempat kuurai doa
Ya Rahim...
Kusadar diri ini lemah
Diri ini penuh cela
Tapi bukan karena air mata-ku
Bukan pula karena batas fisik-ku
Aku tak sekuat yang kukira
Hanya fana yang membutakan mata
Aku manusia, hanya manusia
Tak ada lebih dari diriku
Tak secuil hak atas diriku
Ya Huda...
Gambarkan padaku bentuk kekuatanku
Pada kanvas langit dunia
Agar ku bisa membangunnya
Di jiwa, diraga
Ya Rahman...
Peluk akalku dalam ilmu-Mu
Hingga tak tercerai dalam serpihan kesombongan
Sekali lagi Ya Rabb...
Aku manusia, hanya manusia
Tak ada lebih dari diriku
Tak secuil hak atas diriku
Ku berharap dengan sangat
Atas segala pinta
18-09-2009
05.30 am
terinspirasi dari tokoh Aya, Para Pencari Tuhan jilid 3
Subscribe to:
Posts (Atom)
