17 Agustus 2010 jam 2pm
“walaupun Ia hanya singgah sejenak dalam hidupku, sungguh ia telah menjelma menjadi setengah diriku”
Kalimat itu terus menggantung pikirku. Pagi tadi, kembali aku menemukan sesuatu di dinding facebook Ris. Ah, ada yang ganjal. Pikirku. Semenjak satu pekan ini, aku perhatikan status-status ‘tak biasa’ di situs jejaring sahabat sekaligus salah satu manajer dikantorku itu sedang menceritakan sesuatu. Ketika aku mulai menyadarinya, yakni sejak 2 hari yang lalu, aku mencatatnya di buku sakuku. Aku merasa satu sama lain saling berhubungan. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan Ris. Masalah yang cukup serius, atau mungkin sangat serius. Ris yang aku kenal adalah seorang yang periang dan terbuka. Ia sering membuatku tertawa, hingga melupakan segala galau hati yang kurasakan begitu menghimpit. Jika ada tingkah aneh yang diluar kebiasaan, maka itu artinya ia sedang menghadapi persoalan hidup yang berat. Aku hanya perlu menunggu maksimal 3 hari untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seperti biasanya, ia akan mengganggu malamku dan betah sampai pagi untuk membicarakannya, dirumahku. Mungkin malam ini... atau lusa. Aku tunggu saja.
Kembali aku membuka catatan status-status Ris,
11 Agustus 2010 jam 8am
Ia kembali datang...
12 Agustus 2010 jam 10am
Mengapa... mengapa... mengapa... *tanya yang tak akan sama jawabnya*
13 Agustus 2010 jam 5pm
Miss but hate!
14 Agustus 2010 jam 7pm
OMG! Why did You let him found me!
15 Agustus 2010 jam 9am
I can’t…
16 Agustus 2010 jam 1pm
Terlalu menyakitkan! Maaf.
Aku seperti merasakan sebuah kesedihan yang teramat dalam. Ada apa Ris? Apa yang membuatmu begitu terluka?
**
Pagi Ci.. Dah sarapan blom? Ke kafe atas yuk..
Pesan singkat dari Ris. Hmm.. sepertinya ini saatnya. Oke lah, siap-siap jadi tempat sampah nih. Segera kubalas pesan itu. Bip. Terkirim.
Ayuk atuh. Ketemuan di sono aja ya.
Nggak banyak orang di kafe. Maklum lah kan masih pagi. Cuma beberapa orang yang ketinggalan breakfast dirumahnya dan kebanyakan para manajer. Dan akhirnya, disinilah para ‘orang pintar’ itu berkumpul. Ris? Hmm... sudah kuduga, Ia sudah duduk menyender di pojok kanan kafe menghadapkan wajahnya ke kaca transparan yang melukiskan kehidupan bengis perkotaan. Ah, ada galau diwajahnya. Ada apa Ris? Semoga tampunganku sanggup menepis mendung itu.
”Traktiran kan?” kutepuk pundak Ris lembut. Ah, semakin ringkih saja.
“Eh, ngagetin wae jeng... monggo pesan aja” suaranya dipaksakan ringan.
“Mmm... apa ya?” kubolak-balik buku menu tanpa kubaca,
“Aku pengen hidangan terlezat deh” segera kututup buku itu.
Ris menatapku penuh tanya, atau lebih tepatnya pura-pura tidak mengerti. Aku hanya mengukir senyum lebar dan memandangnya penuh makna. Ayolah Ris, cerita aja, aku siap dengerin kok.
“Loe udah sarapan Ci? Wah, sayang nih padahal gratisan.” Ris berucap seraya mencomot roti bakar didepannya. Stroberi. Rasa kesukaan Ris. Merah penuh dengan keberanian, tapi saat terasa dimulut melembutkan. Begitu filosofi atas kegemarannya tersebut. Terkadang aku sulit menemukan karakter asli anak ini.
“Ya ugah, klo gitu kika kekoyokin aga yah!” suara Ris terdengar berat karena sumpalan roti dimulutnya. Hh...kebiasaan nih anak, suka ngomong klo lagi makan. Aku tersenyum geli. Kurebut roti ditangannya. Segera kulahap tanpa sempat ada protes dari pemiliknya.
“Nyam..hmm...engak yo” sumpalan roti membuat kata-kataku terkubur kalimat yang tidak tepat. Tapi masih bisa dimengerti.
“Hahahahaha...” Ris tergelak demi melihat mulutku penuh sesak dan alhasil berbenjol-benjol di pipi. Ah! Tidak sama. Gelak yang berbeda sekali. Ris, tak usah kau paksakan jika memang tak bisa.
Dengan segelas air mineral akhirnya roti itu lolos melewati kerongkonganku. Hh.. Alhamdulillah. Suara Ris tak lagi terdengar, kutatap wajahnya. Mata kami bertemu. Aha! Riak itu mulai terlihat. Butiran bening mengalir menjamah pipinya. Ia tertunduk. Terisak. Tapi tak lama. Secepat angin Ris meninggalkanku bersama beribu tanya. Kubiarkan saja. Paling dia ke toilet. Meledakkan diri di sana. Aku hanya perlu melakukan dua hal. Membawakan ponsel Ris yang tergeletak di meja dan pergi ke kasir. Membayar sarapan Ris.
**
25 menit.
Terlalu lama Ris kau di sana. Sedang apa sih? Kulangkahkan kaki menuju toilet dekat kantin. Rasanya Ia tadi lari ke sini. Gagang pintu itu kudorong pelan.
“Ris...”
Sepi. Kosong. Kemana anak itu? atau mungkin sudah kembali keruangannya?
Aku hanya bisa menggeleng pelan. Merasakan de javu. Bulan lalu, Ris pernah mengurung diri di toilet kamarnya. Padahal aku baru saja tiba, membawa sekantong plastik besar sayur mayur dan ikan gabus. Kami berencana masak bareng. Begitu masuk rumahnya, kudengar dia sedang berbicara dengan seseorang di ponsel.
“Kenapa baru sekarang?”.
Itu saja yang sempat ku dengar sembari melangkah ke dapur. Sesaat setelah itu pintu toilet terkunci dari dalam. Ris baru keluar 20 menit kemudian. Mata merah. Wajah basah. Senyum palsu.
“Enakan mandangin cobek Ris ketimbang wajahmu” sahutku asal menyambutnya di dapur. Maka, perang sayuran pun terjadi. Begitu saja. Mendung itu pun berlalu.
**
Baru saja aku melangkah ke luar toilet kudengar namaku dipanggil.
“Mba Aci...Mba Aci...!!!” ah suara Mita, resepsionis depan.
“Opo to Mit? Mbok nggak usah tergopoh-gopoh gitu, kayak orang kemalingan aja” candaku melihat Mita ngos-ngosan.
“Uaduh Mba Aci...hh..gawat Mba...hhh... gawaaat...”
**
Tak kupedulikan lagi omongan Mita, kuajak kakiku berlari kencang meninggalkannya. “Mba Ris kecelakaan di pertigaan depan Mba.”
Kalimat singkat itu mendorong adrenalinku untuk berpacu dengan waktu menembus angin. Bahkan aku lupa, kakiku masih bengkak akibat jatuh di tangga rumah kemarin.
**
Nafasku masih satu-satu saat mataku menemukan tubuh ringkih itu tergeletak di tengah jalan. Ia tak bergerak. Merah. Ada merah darah dari kepalanya. Mengalir pelan di sela rambut panjangnya yang tergerai. Ris. Tak bisa kusebut nama itu karena tiba-tiba gelap menyergapku. Sebentar ku dengar raungan sirine ambulan mendekat. Setelah itu pekat.
**
“Ia tak pernah bisa menghapus namamu. Tapi Ia tak punya apa-apa lagi untukmu.” Kupandangi manusia didepanku. Ia lunglai. Tetes-tetes penyesalan mengukir dari balik kabut matanya yang elang.
Inikah dia?
Lelaki elangmu Ris?
Yang tak pernah bisa kau lupakan. Inikah dia yang mengisi hari-harimu terakhir dengan masa lalu? Maaf Ris, aku menemuinya. Meski kau tak cerita. Diari kecil di sudut meja kamarmu yang kutemukan dua hari setelah pemakamanmu telah menceritakan semuanya.
4 Des 2010
@ restroom
Sering seseorang begitu sangat berarti keberadaannya setelah ia tak ada
0 comments:
Post a Comment