
Sejuta bintang di langit. Kiranya seperti itulah eksistensi sebuah ketulusan di zaman sekarang ini. Akankah kita melihat bintang itu bertabur megah diangkasa nan hitam itu? Aku bisa pastikan hanya satu dua yang bisa kita hitung. Padahal mereka begitu megah dengan jutaan koloninya. Kemilau mereka tertutupi oleh gemerlap lampu kota yang angkuh menebar fatamorgananya.
Tulus. Lima kata, yang entah urutan ke berapa diciptakan dalam kosakata Indonesia, sepertinya dimaknai secara berbeda oleh laki-laki dan wanita. Wajar memang. Tapi menjadi tidak wajar, bagiku, jika maknanya terlalu disederhanakan dalam sebuah ikatan.
Dalam sebuah hubungan, yang sering terlihat, ketulusan hanya menjadi tali bagi wanita. Ia begitu kuat mengikat dihatinya, hingga terjerat mati. Hanya untuk menjaga agar ketulusan itu tak terganggu dan tergoda untuk pergi.
Begitu banyak hati wanita terkoyak, tersakiti, hancur... hanya karena sebuah ketulusan yang tak berbalas. Irama yang wanita hadirkan untuk sang kekasih dijawab dengan nada sangat sederhana. Tak sebanding dengan kompleksnya rasa yang menggelepar merajai simpul-simpul ketulusan itu. Akhirnya, sang wanita harus menelan kepahitan. Terseok membangun kembali puing-puing ketegaran. Hanya sebuah sandaran yang sanggup menopangnya, NURANI.
Nurani akan berkata; Tuhan memberimu jalan untuk kau lalui, Ia tau kamu mampu, bangkitlah jiwa karena jalan di depan jauh lebih indah menantimu, kamu bisa...
lelaki juga kadang mengalami hal yang sama...
ReplyDeleteyap. sepertinya kt harus bijak melihat nasib... semua pasti ada maksud
ReplyDelete