Wednesday, January 18, 2012

Aku dan Kebodohanku



“Apakah aku ini pendendam?”
Sebuah tanya yang pernah aku lemparkan ke beberapa orang (ah, seingatku hanya 2 orang sih). Satu-satunya yang menjawab tanya itu adalah seorang kawan yang sering kubilang ‘aneh’ bin ‘nyeleneh’ bin ‘sableng’. Oh! Mukjizat bagiku dia mau menjawab pertanyaanku itu. Tau apa jawabnya?

“Iya, kamu itu pendendam”
Datar. Ah, kenapa aku mendengarnya seperti memperolokku?. Dan sepersekian detik selanjutnya aku menyadari kebodohanku sendiri yang mempercayakan pertanyaan itu untuk dia jawab. Shit!

Dan kita lupakan saja adegan sangat tidak penting bersama kawan ku itu.

Entah sejak kapan pertanyaan itu mampir dibenakku. Yang pasti, aku harus meyakinkan karakter itu ada atau tidak dalam diriku. Entah karena ingin tau saja atau karena usiaku yang semakin renta yang memojokkan setiap nurani ku untuk bisa membedakan yang benar dan yang salah.

Aku sudah melewati hidup puluhan tahun dan aku masih tak mengerti bagaimana karakter ku sesungguhnya. Ah! Something stupid bukan?

Ada kesalahan yang sulit kumaafkan. Ada rasa sakit hati yang tak terbantahkan, mengendap di dasar hati. Manusiawi bukan? Kalian juga pasti mengalaminya.

Tapi ada iba yang menguliti sikap itu. Ada nurani yang selalu berbisik bahwa semua orang pernah salah. Terlebih, tak sepenuhnya kesalahan itu karena mereka. Ada andil – besar ataupun kecil – dari diriku sendiri. Misal, ada buku yang kamu pegang, trus ada yang tiba-tiba mau meminjamnya, kamu ragu untuk memberikannya, tapi si peminjam sudah keburu menarik buku itu dan kamu pun masih memegang erat, sehingga buku itupun robek. Si peminjam tentu salah karena tidak meminjam secara baik-baik, tapi kamu juga salah karena begitu enggan melepas buku itu. Kira-kira begitulah analoginya (aneh memang, tapi terima sajalah).

Lantas, apa aku benar-benar tak bisa memaafkan? Ini tak bisa kujawab tegas. Semua akan menyeretku ke ruang abu-abu. Dibilang memaafkan, tapi aku masih tidak bisa menerima kehadiran mereka kembali. Dibilang tidak memaafkan, toh aku bisa melanjutkan hidupku tanpa berlama-lama mengingat kembali luka itu.

Pendendam kah aku? Pertanyaan itu selalu menghantuiku.

Aku begitu ingat saat mempelajari sifat-sifat yang tidak terpuji pelajaran agama Islam di sekolah dasar dulu. Ya, dendam adalah salah satu sifat-sifat itu. Aku sadar. Sesadar-sadarnya. Tapi, bagaimana caranya aku menangkal rasa sakit hati? Sebuah luka yang digoreskan oleh waktu. Luka yang membuatku malu. Ingin ku ratapi diri sendiri saja, namun tak adil rasanya. Ada orang lain yang menyebabkan aku begini. Begitu terus sisi jahatku berbisik.

Akhir dari pencarianku menyimpulkan, bahwa yang sudah terjadi maka itulah takdir. Aku hanya bisa memohon ampun atas masa lalu. Apakah masa depan bisa menerima kesalahan ku, biar kuserahkan pada sang waktu.


18.01.2012 @11.18pm

0 comments:

Post a Comment